KARDINAL KATOLIK MENGATAKAN ADAM DAN HAWA TIDAK BENAR-BENAR ADA

Kardinal George Pell, kepala dari keuskupan agung Roma Katolik di Sydney, Australia, mengatakan bahwa Adam dan Hawa tidak benar-benar ada. Hadir di samping atheis Richard Dawkins dalam program Tanya Jawab Australian Broadcasting Corporation, Pell mengatakan bahwa kisah Alkitab tentang Adam dan Hawa “adalah suatu mitologi yang canggih untuk mencoba menjelaskan mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia.” Dia mengatakan bahwa tidaklah mungkin untuk mengatakan kapan ada manusia pertama, mengacu kepada kepercayaannya bahwa manusia berevolusi dari dunia binatang. Jadi, “kardinal” yang bodoh ini mengubah Alkitab menjadi suatu dongeng dan membuat para nabi dan Yesus Kristus sebagai orang-orang yang tertipu atau bahkan penipu. Adam disebut langsung sebanyak 31 kali dalam Alkitab. Dia diperlakukan sebagai seseorang yang historis oleh penulis Tawarikh (1 Taw. 1:1), Ayub (Ay. 31:33, KJV), Lukas (Luk. 3:38), Paulus (Rom. 5:14; 1 Kor. 1:22, 45; 1 Tim. 2:13-14), dan Yudas (14). Dalam Matius 19:4-5, Yesus mengutip Kejadian 1:27 dan Kejadian 2:24 dan menyatakan tanpa keraguan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan pertama. Jika penciptaan tidaklah literal, kejatuhan tidaklah literal, dan Yesus Kristus dan salib dan keselamatan sama sekali tidak masuk akal. (Berita Mingguan GITS 12 Mei 2012, sumber: http://www.wayoflife.org, diterjemahkan oleh Dr. Steven E. Liauw, Th.D)

This entry was posted in ALKITAB and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to KARDINAL KATOLIK MENGATAKAN ADAM DAN HAWA TIDAK BENAR-BENAR ADA

  1. Petrus says:

    Ternyata ada juga hamba Tuhan yg suka menjelek-jelekkan gereja lain. Otak yg sudah dicuci sama doktrin sola scriptura selalu memakai bahasa teologi yg katanya Alkitabiah. Sola scriptura yg katanya Alkitabiah kok ajarannya saling bertentangan dari sola scriptura yg satu ke sola scriptura yg lain. Sampai akhir jaman penganut doktrin sola scriptura tidak akan pernah damai, dan itu sudah dibuktikan oleh sejarah dengan banyaknya aliran gereja penganut sola scriptura. Saya heran semua mengkleim sola scriptura Alkitabiah, lalu kenapa sola scriptura yg A bertentangan dgn sola scriptura yg B dan seterusnya?. Sehingga jemaat yg jadi korban kesesatannya. Sungguh prihatin dgn jemaat Tuhan sekarang. GBU.

  2. Petrus says:

    Ternyata ada juga hamba Tuhan yg suka menjelek-jelekkan gereja lain. Otak yg sudah dicuci sama doktrin sola scriptura selalu memakai bahasa teologi yg katanya Alkitabiah. Sola scriptura yg katanya Alkitabiah kok ajarannya saling bertentangan dari sola scriptura yg satu ke sola scriptura yg lain. Sampai akhir jaman penganut doktrin sola scriptura tidak akan pernah damai, dan itu sudah dibuktikan oleh sejarah dengan banyaknya aliran gereja penganut sola scriptura. Saya heran semua mengkleim sola scriptura Alkitabiah, lalu kenapa sola scriptura yg A bertentangan dgn sola scriptura yg B dan seterusnya?. Sehingga jemaat yg jadi korban kesesatannya. Sungguh prihatin dgn jemaat Tuhan sekarang. Dari pada menjelek-jelekan gereja lain mari adu argumentasi diwww.katolisitas.org. GBU

  3. frans says:

    Saudariku terkasih Petrus, gak perlu marah doakan saja semoga Allah Bapa kita mengampuni. Kita percaya bahwa yang diajarkan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik sudah benar.

  4. back to chatolic says:

    Sejak Kapan Gereja disebut Gereja Katolik?

    Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[1] bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

    Namun nama ‘Gereja Katolik’ baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaah Docetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik….”[2]. Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

    Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal“; atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti, yaitu bahwa: 1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia’, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). 2) Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

    Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

    Namun demikian, nama “Gereja Katolik” tidak untuk dipertentangkan dengan istilah “Kristen” yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab ‘Kristen’ artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah ‘Kristen’ mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna ‘Kristen’ itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka.

  5. Apa nggak ada kerjaan sehingga menjelek-jelekkan Gereja lain? Apa untung yang kaudapatkan dari semuanya ini? Kebenaran tetaplah kebenaran, entah sehebat apapun coba ditutup-tutupi oleh lumpur kecil. Pelajari lagi lebih mendalam lagi sejarah Gereja abad I – IV, baru beri komentar.

  6. back to chatolic says:

    Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala?

    PEMBAHASANDasar Kitab Suci
    Dasar Tradisi Suci
    Dasar Magisterium
    Diskusi lebih lanjut
    Pandangan Martin Luther tentang penggunaan patung/ lukisan

    Walaupun adakalanya umat Katolik berdoa di depan patung, umat Katolik tidak menyembah berhala. Jika umat Katolik menunjukkan sikap hormat di depan patung Tuhan Yesus, Bunda Maria ataupun para orang kudus lainnya, itu adalah karena umat Katolik menghormati pribadi yang digambarkan oleh patung tersebut. Penghormatan ini disebut dulia relatif, seperti yang sudah pernah diuraikan di link ini: http://katolisitas.org/6656/apa-itu-devosi-kepada-bunda-maria Contoh penghormatan ‘Dulia relatif‘ yaitu pada saat Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk membuat patung ular dari tembaga yang dipasang di sebuah tiang, agar barang siapa yang memandang patung itu akan tetap hidup walaupun telah dipagut ular (Bil 21:8-9). Ular tembaga yang ditinggikan di tiang ini menjadi gambaran akan Yesus Kristus yang juga akan ditinggikan di kayu salib (lihat Yoh 3:14). Tentu saat itu, orang Israel tidak menyembah berhala, sebab Allah-lah yang menyuruh mereka menghormati dengan ‘memandang ke atas’ ular tembaga yang dibuat oleh Musa itu. Penghormatan dulia- relatif lainnya yang dicatat dalam Kitab Suci, adalah ketika Tuhan menyuruh Musa untuk membuat tabut perjanjian, dengan membuat patung malaikat (kerub) untuk diletakkan di atas tutupnya (lih. Kel 37). Di dalam tabut diletakkan roti manna (Kel 25:30), tongkat Harun (Bil 17:10) dan kedua loh batu sepuluh perintah Allah (Kel 25:16). Tabut perjanjian ini kemudian menyertai bangsa Israel sampai ke tanah terjanji yang dipimpin oleh nabi Yosua. Kitab Yosua mencatat bahwa Yosua bersama- sama para tua- tua sujud ke tanah menghormati tabut Tuhan: “Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel….” (Yos 7:6). Tentu tabut itu bukan Tuhan, dan tentu yang dihormati bukan apa yang nampak, yaitu kotak dengan patung malaikat (kerub) di atasnya, tetapi adalah Allah yang dilambangkan-Nya. Yosua dan para tua- tua Yahudi pada saat itu tidak menyembah berhala, Allah tidak menghukum mereka karena sujud di depan tabut itu. Sebaliknya Allah menerima ungkapan tobat mereka, dan menyatakan kehendak-Nya atas apa yang harus mereka perbuat terhadap Akhan, yang melanggar perintah-Nya.

    Dengan demikian, larangan pembuatan patung dalam Perjanjian Lama (lih. Kel 20:4) berada dalam kesatuan dengan ayat sebelumnya (ayat 3) dan sesudahnya (ayat 5), yaitu bahwa Allah melarang umat-Nya membuat patung yang menyerupai apapun untuk disembah sebagai allah lain di hadapan-Nya. Namun jika tidak disembah, gambaran yang menyerupai sesuatu tidak dilarang Tuhan. Allah sendiri menyuruh membuat patung kerub/ malaikat untuk ditempatkan di tempat kudus-Nya (lih. Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35). Di Perjanjian Lama, Allah memang melarang umat-Nya menggambarkan Diri-Nya ke dalam bentuk patung, karena Ia sendiri belum menggambarkan Diri-Nya. Namun kemudian Allah sendiri memperbaharui ajaran ini, dengan menggambarkan Diri-Nya di dalam Kristus (lih. Kol 1:15); dengan demikian, manusia memperoleh gambaran akan Tuhan. Oleh karena itu penggambaran akan Kristus dalam bentuk patung, lukisan atau bahkan gambar dalam film kartun tidaklah melanggar perintah Allah, karena Allah telah terlebih dahulu menggambarkan Diri-Nya di dalam Kristus. Gambar/ patung itu tidak disembah, namun hanya dimaksudkan sebagai alat bantu untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan.

    Maka sikap hormat di hadapan patung/ gambar Tuhan Yesus, Bunda Maria atau para kudus lainnya bukan merupakan penyembahan berhala, sebab yang dihormati bukan patung itu sendiri melainkan pribadi yang dilambangkannya. Sejak abad awal gereja jemaat purba (katakomba) telah dihiasi oleh gambar- gambar rohani (Christian art), yang terlihat dari dinding- dinding gereja bawah tanah tersebut, yang antara lain ditemukan di abad ke-16 (31 Mei 1578, katakomba di Via Salaria). Adanya gambar Kristus Gembala yang baik, atau Kristus yang duduk di antara para orang kudus dan simbol- simbol serta ornamen lainnya (seperti daun palma, domba, salib, ikan, dst) juga nampak pada kubur batu (sarcophagi) umat Kristen. Kubur yang terkenal milik Julius Bassus (45-101), sudah dihiasi gambar- gambar peristiwa dalam Perjanjian Baru. Patung St. Hippolytus dan St. Petrus sudah dibuat di awal abad ke-3. Maka pandangan bahwa jemaat purba menolak semua gambar atau patung adalah pandangan yang keliru. Setelah jaman Kaisar Konstantin (306-307) memang terdapat perkembangan pesat dalam hal seni Kristiani, namun tidak ada perubahan prinsip di sini. Ornamen- ornamen di basilika merupakan perkembangan dari ornamen- ornamen di dinding katakomba; patung- patung di basilika dibuat lebih besar dan lebih indah daripada patung- patung di kubur batu/ sarcophagi.

    Dasar Kitab Suci
    •Bil 21:8-9; Yoh 3:14: Dulia relatif: Allah memerintahkan Musa untuk membuat patung ular tembaga di sebuah tiang, yang menjadi gambaran Yesus yang ditinggikan di kayu salib
    •Kel 20 3-5: Larangan membuat patung untuk disembah sebagai allah lain
    •Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35, 7:23-26: Allah memerintahkan pembuatan patung kerub yang diletakkan di atas tabut perjanjian.
    •Yos 7:6: Yosua sujud sampai ke tanah di hadapan tabut perjanjian.
    •Yeh 41:17-18: ukiran gambar- gambar kerub/ malaikat dan pohon- pohon korma di ruang Bait Suci.

    Dasar Tradisi Suci
    •Tertullian (160-220): “Adalah cukup bahwa Tuhan yang sama, sebagaimana dengan hukum melarang pembuatan patung yang menyerupai apapun, juga dengan perintah yang khusus, seperti dalam kasus ular tembaga [jaman Nabi Musa], memerintahkan untuk membuat patung [yang menyerupai ular].” (Tertullian, On Idolatry, chapt. 5)
    •St. Basilius Agung (330-379): “Penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar mengacu kepada tokoh yang digambarkannya” (St. Basilius, De Spiritu Sancto. 18,45)
    •St. Ambrosius (397) menuliskan dalam suratnya bahwa suatu malam Rasul Paulus menampakkan diri kepadanya, dan St. Ambrosius mengenali Rasul Paulus dari kemiripan dengan gambar/ lukisan tentangnya (Ep. ii, in P.L., XVII, 821)
    •St. Agustinus (wafat 430) menyebutkan beberapa kali tentang lukisan Tuhan Yesus dan para orang kudus di gereja- gereja (lih. St. Agustinus, “De cons. Evang.”, x, in P.L., XXXIV, 1049; “Contra Faust. Man.”, xxii, 73, in P.L., XLII, 446); ia mengatakan bahwa beberapa orang bahkan menghormati lukisan- lukisan tersebut (“De mor. eccl. cath.“, xxxiv, P.L., XXXII, 1342).
    •St. Jerome (Hieronimus- wafat 420) menulis tentang gambar- gambar lukisan para Rasul dan ornamen- ornamen yang ada dalam gedung- gedung gereja.
    •St. Gregorius Agung (wafat 604). Ia menulis kepada Serenus dari Marseilles, Uskup Ikonoklas, yang telah merusak gambar-gambar di keuskupannya: “Bukannya tanpa alasan bahwa jemaat purba memperbolehkan kisah- kisah para kudus untuk dilukiskan di tempat- tempat kudus. Dan kami sungguh memuji anda sebab anda tidak memperbolehkan lukisan- lukisan itu untuk disembah, tetapi kami menyalahkan anda karena anda telah merusaknya. Sebab adalah satu hal tentang menyembah sebuah gambar, namun adalah hal lain tentang mempelajari dari apa yang nampak di gambar itu, tentang apa yang harus kita sembah. Apa yang ada di buku adalah untuk mereka yang dapat membaca, seperti halnya gambar bagi mereka yang tidak dapat membaca yang memandangnya; melalui gambar, bahkan mereka yang tidak terpelajar dapat melihat tentang contoh yang harus mereka ikuti; melalui gambar, mereka yang buta huruf dapat membaca…. (Ep. ix, 105, in P.L., LXXVII, 1027) Catatan: Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang di dunia pada saat itu tidak dapat membaca.

    Dasar Magisterium
    •KGK 2129 Perintah Allah melarang tiap-tiap lukisan tentang Allah yang dibuat oleh tangan manusia. Buku Ulangan menjelaskan: “Karena kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari Tuhan berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api, hati- hatilah supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun” (Ul 4:15-16). Allah yang transenden secara absolut telah menampakkan diri kepada Israel. “Dialah segala-galanya”, tetapi serentak pula “Ia adalah lebih besar daripada segala perbuatan-Nya” (Sir 43:27-28). Ia adalah “bapa keindahan” (Keb 13:3).
    •KGK 2130 Namun demikian, di dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menyuruh dan mengizinkan pembuatan patung, yang sebagai lambang harus menunjuk kepada keselamatan dengan perantaraan Sabda yang menjadi manusia: sebagai contoh, ular tembaga (Bdk. Bil 21:4-9; Keb 16:5-14; Yoh 3:14-15), tabut perjanjian, dan kerub (Bdk. Kel 25:10-22; 1 Raj 6:23-28; 7:23-26).
    •KGK 2131 Berkenaan dengan misteri penjelmaan Sabda menjadi manusia, maka konsili ekumene ketujuh di Nisea tahun 787 membela penghormatan kepada ikon [gambar], yang menampilkan Kristus atau juga Bunda Allah, para malaikat dan para kudus, melawan kelompok ikonoklas. Dengan penjelmaan menjadi manusia, Putera Allah membuka satu “tata gambar” yang baru.
    •KGK 2132 Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea 11: DS 601, Bdk.Konsili Trente: DS 1821-1825; SC 126; LG 67). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu “penghormatan yang khidmat”, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.
    “Penghormatan kepada Allah tidak diberikan kepada gambar sebagai benda, tetapi hanya sejauh mereka itu gambar-gambar, yang mengantar kepada Allah yang menjadi manusia. Gerakan yang mengarahkan ke gambar sebagai gambar, tidak tinggal di dalam ini, tetapi mengarah kepada Dia, yang dilukiskan di dalam gambar itu” (Tomas Aquinas., S.Th. 2-2,81,3, ad 3).

  7. Beton says:

    HUKUM TAURAT antara lain:
    .
    1. HARAM mengkonsumsi DARAH ”Imamat 7:26-27, Ulangan 12:16, Imamat 19:26”, yang melanggar harus dilenyapkan.
    2. HARAM mengkonsumsi BABI ”Imamat 11:7-8, Ulangan 14:8, Yesaya 66:17”, yang melanggar harus dilenyapkan.
    3. HARAM minum KHAMR/minuman keras ”Hakim hakim 13:4-14, Imamat 10:8-10, Hosea 4:11, 1Efesus 5:18”.
    4. SUNAT/khitan hukumnya WAJIB ”Kejadian 17:10-14, 21:4, Lukas 2:21, Kisah para rasul 15:1”. Yang tidak sunat tidak diselamatkan.
    5. JENAZAH wajib dibungkus kain KAFAN ”Matius 27:58-59-60, Markus 15:46, Lukas 23:52, Johanes 19:40”.

  8. Beton says:

    Kita TELITI satu persatu AJARAN YESUS yang tertuang didalam BIBLE.
    .
    1. Mengucapkan SYAHADAT. Jesus menyatakan bahwa Tuhan itu hanyalah Allah dan Jesus hanyalah pesuruh Allah ”Inilah hidup yang kekal supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa, dan Jesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu ( Engkau utus ) ”. Johanes 17:3. ”Maka kepadamulah ia ditunjuk supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu ialah Allah dan kecuali Tuhan yang esa tiada yang lain lagi”. Ulangan 4:35. ”Maka jawab Jesus kepadanya. Hukum yang terutama ialah, dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan kita. Dialah Tuhan yang Esa”. Markus 12:29. ”Dengarlah olehmu hai Israil adapun Hua Allah kita Hua itu Esa adanya”. Ulangan 6:4.
    2. Mengerjakan SHOLAT ( Sembahyang ). ”Berwudhu dengan membasuh tangan dan kaki sebelum masuk rumah ibadah”. Keluaran 40:31-32. ”Melepas kasut/alas kaki ditanah kudus”. Keluaran 3:5. Josua 5:15. ”Menghadap kiblat”. Mazmur 5:8. ”Sujud” Mazmur 95:6. Josua 5:4. Matius 26:39.
    3. BERPUASA. Jesus melakukan puasa di bulan ke sembilan ( Ramadhan ) untuk memenuhi perintah Tuhan yang tertuang dalam Taurat. Yeremia 36:9. Puasa pada bulan KESEMBILAN atau bulan Ramadhan Keluaran 34:28, Matius 4:2. ( Yesus puasa 40 hari 40 malam )
    4. MEMBAYAR ZAKAT. Matius 6:2-4. Ester 9:22.
    5. IBADAH HAJI. Mazmur 84:5-7 :”Berbahagialah orang orang yang diam dirumah MU, yang terus menerus memuji muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya didalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah. Apabila melintasi lembah Baka / MAKKAH mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air ( zam zam ) bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s