BAPTIS DAN KATOLIK BERSAMA-SAMA MEMBUAT FILM

Sherwood Baptist Church, pembuat dari film-film seperti Flywheel, Facing the Giants, dan Fireproof, kini mempromosikan persatuan dengan Gereja Roma Katolik dengan tujuan mengembalikan Amerika kepada Allah. Sherwood Baptist berlokasi di Albany, Georgia, di tengah-tengah daerah yang dijuluki “Bible belt,” tetapi Gembala Sidang Michael Catt tidak percaya apa yang Alkitab katakan tentang memisahkan diri dari kesesatan (Roma 16:17; 2 Kor. 6:14; 2 Tim. 3:5). Gereja tersebut kini sedang secara agresif mencari partisipasi Roma Katolik dalam mempromosikan film barunya, Courageous. Kita diberitahu bahwa “orang-orang Katolik akan dikirim ke website Courageous-nya Sherwood Baptist Church yang khusus untuk Katolik,” dan sebagaimana diobservasi oleh seorang teman, “Mereka yang menyebut diri Kristen akan melihat halaman tentang sumber daya Katolik ini dan akan dipimpin untuk percaya bahwa Katolik dan Kristen adalah saudara seiman dalam Kristus.” Sherwood Baptist mengundang The National Catholic Register untuk menyaksikan pembuatan film ini dan Gembala Catt memberikan sang wartawan, Matthew Warner, sebuah wawancara yang hangat, positif, dan ekumenis yang lalu dipublikasikan di website publikasi Katolik pada tanggal 20 Juni 2010. Catt membuat pernyataan berikut dalam wawancara itu: “Ketika kami pergi ke seluruh bagian negeri ini dan membuat film ini, kami bertemu dengan orang-orang dari denominasi apa saja yang dapat anda bayangkan, dan kami segera memiliki persekutuan dan persaudaraan karena kami memiliki satu hal yang kami tahu sama: kami satu keluarga. Kami adalah anggota-anggota satu keluarga karena kami adalah saudara-saudari dalam Kristus, tidak peduli label apa yang dipakai.” Gembala sidang Southern Baptist yang kebingungan ini jelas tidak percaya peringatan Yesus bahwa akan datang banyak guru-guru palsu yang akan mengajarkan kesesatan dengan cara yang sedemikian halus sehingga orang-orang pilihan pun akan tertipu seandainya mungkin (Mat. 7;15; 24:11, 24). Catt sepertinya tidak percaya pernyataan Yesus bahwa banyak yang akan mengakui Kristus sebagai “Tuhan, Tuhan” tetapi sebenarnya terhilang (Mat. 7:21-23). Catt sepertinya tidak percaya bahwa Paulus melalui Roh Kudus memperingatkan akan kristus-kristus palsu dan injil palsu dan roh-roh palsu (2 Kor. 11:1-3) dan bahwa suatu pergeseran besar dari kebenaran akan terjadi di waktu-waktu terakhir (2 Tim. 3:5; 4:3-4). Gembala Catt mungkin akan protes dan berkata bahwa ia mempercayai semua hal ini, tetapi jika demikian yang jelas dia tidak tahu bagaimana harus bertindak atas informasi ini dalam cara praktis apapun. Billy Atwell, seorang blogger Katolik yang diundang untuk menyaksikan pembuatan film Courageous, mengatakan bahwa agar Baptis dan Katolik dapat bekerjasama, “kita hanya memerlukan suatu kerangka kekristenan ortodoks yang sama, dan saling setuju akan isu yang di depan mata” (“From Fireproof to Courageous,” Catholic Online, 18 Juni 2010). Usaha untuk mengimplikasikan bahwa Baptis dan Roma Katolik memiliki kerangka kekristenan ortodoks yang sama adalah kesalahan yang sangat besar. Orang-orang Baptis yang percaya Alkitab dan orang-orang Katolik tidak berbagi pandangan akan Injil yang sama, misalnya, dan itu jelas adalah suatu aspek ortodoksi kekristenan yang sangat mendasar. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan adalah melalui kasih karunia semata, melalui iman dalam Kristus semata, tanpa perbuatan ataupun sakramen, sementara dalam Konsili Trent, Roma mengutuki orang-orang yang mempercayai Injil ini. Ketika Atwell merujuk kepada “isu yang di depan mata,” dia memaksudkan tema dari film Courageous, yang adalah keayahan (fatherhood). Jadi, kita diberitahu bahwa adalah baik-baik saja bagi Baptis dan Katolik untuk bersatu demi isu ayah. Tetapi seorang ayah yang baik, sebagaimana didefinisikan oleh Alkitab, akan memimpin keluarganya untuk menaati “seluruh maksud Allah” dan mengajarkan anak-anaknya untuk “melakukan SEGALA SESUATU” yang Kristus telah perintahkan dalam Kitab Suci (Mat. 28:19-20). Seorang ayah yang baik, oleh sebab itu, diharuskan membesarkan keluarganya di dalam sebuah gereja yang sungguh-sungguh alkitabiah, dan tidaklah mungkin bagi ayah-ayah yang sungguh percaya Alkitab untuk bersatu kuk dan melayani bersama dan bersekutu rohani dengan orang-orang yang mengajarkan injil yang palsu dan kesesatan yang jelas (misalnya kepausan, penyembahan Maria, sakramentalisme, kelahiran kembali melalui baptisan, keimamatan, kelajangan yang dipaksakan, monastikisme, penghormatan relik-relik kuno, purgatori, Roma sebagai kepala dari semua gereja, dll). Sherwood Baptist tidak diragukan pastilah tulus dalam niatnya untuk menolong Amerika, tetapi mereka buta kepada fakta bahwa posisi mereka ini mewakili tipe kekristenan yang dangkal, suam-suam kuku, dan keduniawian, yang sejak awalnya justru menjerumuskan Amerika. (Berita Mingguan GITS 09 Juli 2011, diterjemahkan oleh Steven E. Liauw, Th.D, sumber: www.wayoflife.org)

This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to BAPTIS DAN KATOLIK BERSAMA-SAMA MEMBUAT FILM

  1. fanni says:

    yang nabi palsu.. yaitu org yg tidak suka kekristenan kembali ke asalnya… yaitu gereja katolik. ciri ciri nabi palsu=sok tau ttg akir zaman = ujung ujung nya jadi mormon(memeras uang jemaat dengan salah menafsirkan Alkitab)

  2. steven sesat says:

    gereja Baptis Amerika aja yg lebih tau sejarah gereja… udah mulai sadar akan kembali ke pangkuan Katolik… pak steven ama dede,yg baru pemula, back to chatolic…

  3. back to chatolic says:

    Sejak Kapan Gereja disebut Gereja Katolik?

    Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[1] bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

    Namun nama ‘Gereja Katolik’ baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaah Docetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik….”[2]. Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

    Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal“; atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti, yaitu bahwa: 1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia’, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). 2) Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

    Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

    Namun demikian, nama “Gereja Katolik” tidak untuk dipertentangkan dengan istilah “Kristen” yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab ‘Kristen’ artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah ‘Kristen’ mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna ‘Kristen’ itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s