Pengajaran Resmi Katolik

Ada kalanya, agar kebenaran nyata, kesalahan harus disingkapkan dan ditelanjangi. Hal ini dilakukan bukan karena rasa benci kepada mereka yang salah, tetapi justru karena kasih yang besar kepada mereka. Kita tidak tega melihat orang-orang dibutakan oleh kesesatan, dan dengan resiko dibenci, akan memberitakan kebenaran kepadanya, walaupun itu melukai egonya.

Gereja Roma Katolik adalah salah satu institusi yang mengatasnamakan Yesus Kristus, tetapi sebenarnya sangatlah jauh menyimpang dari Yesus yang sejati, Firman Tuhan, dan kebenaran. Banyak praktek Katolik yang sama sekali tidak ada dalam Alkitab, misalnya: doktrin mereka tentang Maria, tentang santo-santa, tentang api penyucian, tentang pastor yang tidak menikah, tentang misa, dan masih banyak lagi.

Walaupun demikian, banyak orang yang tidak mau percaya bahwa Katolik itu memang salah. Bahkan orang Katolik sendiri, ketika diperhadapkan dengan doktrin-doktrin Katolik yang tidak alkitabiah, misalnya bahwa roti ekaristi yang dia makan dipercaya adalah benar-benar daging Yesus (ia makan daging manusia), kadang menyangkal bahwa Katolik memiliki doktrin seperti itu. Orang-orang Injili juga, kini semakin mendekat kepada Katolik, dan tidak merasa bahwa “Katolik separah itu.”

Untuk melihat sebenarnya apa pengajaran Katolik, coba kita lihat deklarasi resmi mereka sendiri. Berikut ini adalah dokumentasi tentang Konsili Trent dan Konsili Vatican Kedua, yang merumuskan doktrin resmi Katolik.

Berikut ini disadur dari tulisan David Cloud, “Rome and The Council of Trent”

Ada pihak-pihak yang mau membuat semua orang berpikir bahwa Gereja Roma Katolik telah berubah dan bukan lagi institusi sesat seperti dulu. Ted Haggard, mantan gembala sidang senior New Life Church di Colorado Springs dan juga mantan presiden dari National Association of Evangelicals (NAE) yang beranggotakan 30 juta orang, mengatakan pada bulan Oktober 2005: “New Life tidak mencoba untuk menobatkan “orang-orang Katolik” dan bahwa gereja tersebut tidak akan pernah menghalang-halangi anggota-anggotanya untuk “menjadi Katolik atau menghadiri Misa Katolik” (BereanCall, Januari 2006).

Pernyataan ini mencerminkan perubahan yang sangat radikal dalam gerakan Injili, tetapi mengenai Roma sendiri, tidak banyak yang berubah.

 

Konsili Trent adalah sebuah konsili Katolik yang dilaksanakan dari tahun 1545 hingga 1563 dalam upaya untuk menghancurkan bangkitnya Reformasi Protestan. Konsili ini menyangkali semua doktrin Reformasi, termasuk sola scriptura (hanya Kitab Suci) dan sola grasia (hanya kasih karunia). Trent menghujamkan 125 anathema (kutukan kekal) terhadap orang-orang Kristen yang percaya Alkitab, termasuk hal-hal di bawah ini:

SESI KEEMPAT: DEKRIT MENGENAI KANON KITAB SUCI: “Jika seseorang tidak menerima buku-buku yang baru saja disebut secara keseluruhan beserta semua bagian mereka [66 kitab Alkitab plus 12 buku Apokripa, yaitu dua Paralipomenon, dua Esdras, Tobias, Yudit, Wisdom, Ecclesiasticus, Barukh, Sophonias, dua Makabeus], sebagai sesuatu yang kudus dan kanonikal, sebagaimana sudah biasa mereka baca dalam Gereja Katolik dan terkandung dalam Edisi Latin Kuno Vulgate, dan secara sadar dan sengaja menolak tradisi-tradisi ini, BIARLAH DIA ANATHEMA.”

SESI KEENAM: KANON MEGENAI PEMBENARAN: “Jika seseorang mengatakan bahwa iman yang membenarkan tidak lain dari keyakinan dalam kemurahan ilahi, yang menghilangkan dosa demi Kristus, atau bahwa keyakinan ini saja yang membenarkan kita, BIARLAH DIA ANATHEMA” Canons Concerning Justification, Canon 12).

SESI KEENAM: KANON MENGENAI PEMBENARAN: “Jika seseorang mengatakan bahwa pembenaran yang [dia] terima tidak dipertahankan dan juga tidak bertambah di mata Allah melalui pekerjaan baik, tetapi bahwa pekerjaan-pekerjaan itu hanyalah buah dan tanda-tanda BAHWA pembenaran telah terjadi, tetapi bukan yang menyebabkan pembenaran itu, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons Concerning Justification, Canon 24).

SESI KEENAM: KANON MENGENAI PEMBENARAN: “Jika seseorang mengatakan bahwa doktrin pembenaran Katolik sebagaimana dinyatakan oleh konsili kudus dalam dekrit ini, mengecilkan dalam aspek tertentu kemuliaan Allah atau karya Tuhan kita Yesus Kristus, dan bukannya malah menggambarkan kebenaran iman kita dan juga kemuliaan Allah dan Kristus Yesus, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons Concerning Justification, Canon 33).

SESI KETUJUH: KANON TENTANG BAPTISAN: “Jika seseorang mengatakan bahwa dalam Gereja Roma, yang adalah bunda dan ibu dari semua gereja, tidak terkandung doktrin yang benar mengenai sakramen baptisan, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons On Baptism, Canon 3).

SESI KETUJUH: KANON TENTANG BAPTISAN: “ Jika seseorang mengatakan bahwa baptisan bersifat pilihan, jadi bahwa tidak diperlukan untuk keselamatan, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons On Baptism, Canon 5).

SESI KETUJUH: KANON TENTANG BAPTISAN: “ Jika seseorang mengatakan bahwa anak-anak, karena mereka belum memiliki kemampuan untuk percaya, tidaklah masuk ke dalam hitungan orang-orang beriman setelah pembaptisannya, dan bahwa karena alasan ini mereka harus dibaptis ulang setelah mereka mencapai umur pengertian; atau bahwa lebih baik jika baptisan seseorang yang demikian dihilangkan saja, daripada tanpa percaya dari diri mereka sendiri mereka dibaptis ke dalam iman Gereja, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons Concerning On, Canon 13).

SESI KETUJUH: KANON TENTANG PENGUATAN (Editor: Salah satu dari 7 sakraman Katolik, mirip dengan sidi dalam gereja-gereja Protestan): “Jika seseorang mengatakan bahwa acara penguatan atas mereka yang dibaptis adalah ritual yang kosong dan bukanlah sakramen yang sejati dan benar; atau bahwa di zaman dulu acara ini tidak lebih dari suatu acara pembelajaran, pada saat mana mereka yang mendekati usia remaja memberikan pertanggungan jawab atas iman mereka kepada Gereja, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons On Confirmation, Canon 1).

SESI KETIGABELAS: KANON TENTANG SAKRAMEN KUDUS EKARISTI: “Jika seseorang menyangkal bahwa dalam sakramen paling Kudus Ekaristi terkandung secara sejati, benar-benar, dan substansial, tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan keilahian Tuhan kita Yesus Kristus, dan dengan demikian keseluruhan Kristus, tetapi mengatakan bahwa Ia hanya ada di dalamnya sebagai suatu tanda, atau simbol, atau kuasa, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons on the Most Holy Sacrament of the Eucharist, Canon 1).

SESI KETIGABELAS: KANON TENTANG SAKRAMEN KUDUS EKARISTI: “Jika seseorang mengatakan bahwa Kristus yang diterima dalam Ekaristi diterima hnaya secara rohani dan bukan juga secara sakramental dan secara benar-benar, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons on the Most Holy Sacrament of the Eucharist, Canon 8).

SESI KEEMPATBELAS: KANON TENTANG SAKRAMEN KUDUS PENGAKUAN DOSA: “Jika seseorang mengatakan bahwa dalam Gereja Katolik pengakuan dosa bukanlah suatu sakramen yang benar-benar dibuat oleh Kristus Tuhan untuk memperdamaikan orang-orang beriman Allah setiap kali mereka jatuh ke dalam dosa setelah baptisan, BIARLAH DIA ANATHEMA (Canons Concerning the Most Holy Sacrament of Penance, Canon 1).

SESI KEEMPATBELAS: KANON TENTANG SAKRAMEN KUDUS PENGAKUAN DOSA: “Jika seseorang menyangkal bahwa sakramen pengakuan dosa dibuat oleh hukum ilahi atau perlu untuk keselamatan; atau mengatakan bahwa cara pengakuan rahasia kepada seorang imam sendirian, yang telah dilakukan sejak awal oleh Gereja Katolik dan masih dilakukan, adalah berlawanan dengan institusi dan perintah Kristus dan adalah ciptaan manusia, BIARLAH DIA ANATHEMA (Canons Concerning the Most Holy Sacrament of Penance, Canon 7).

SESI KEEMPATBELAS: KANON TENTANG SAKRAMEN KUDUS PENGAKUAN DOSA: “Jika seseorang mengatakan bahwa pengakuan semua dosa, sebagaimana dipraktekkan dalam Gereja, adalah hal yang tidak mungkin dan adalah tradisi manusia yang harus dihapuskan oleh orang-orang saleh; atau bahwa setiap dan semua orang beriman Kristus dari jenis kelamin manapun tidak terikat kepada hal ini satu kali setahun sesuai dengan undang-undang dasar Konsili Lateran yang agung, dan bahwa karena alasan ini maka orang-orang beriman Kristus harus diyakinkan untuk tidak mengaku dosa pada hari Lent, BIARLAH DIA ANATHEMA (Canons Concerning the Most Holy Sacrament of Penance, Canon 8).

SESI KEEMPATBELAS: KANON TENTANG SAKRAMEN KUDUS PENGAKUAN DOSA: “Jika seseorang mengatakan bahwa Allah selalu mengampuni semua hukuman bersama dengan kesalahannya dan bahwa petobat harus cukup puas dengan iman mereka yang mengetahui bahwa Kristus telah memuaskan [tuntutan bagi] mereka, BIARLAH DIA ANATHEMA (Canons Concerning the Most Holy Sacrament of Penance, Canon 8).

SESI KEDUAPULUHDUA: KANON TENTANG PERSEMBAHAN MISA: “Jika seseorang mengatakan bahwa dalam Misa, suatu korban yang benar dan sejati tidak dipersembahkan kepada Allah; atau bahwa yang dipersembahkan tidak lain dari Kristus yang diberikan bagi kita untuk DImakan, BIARLAH DIA ANATHEMA (Canons on the Sacrifice of the Mass, Canon 1).

SESI KEDUAPULUHDUA: KANON TENTANG PERSEMBAHAN MISA: “Jika seseorang mengatakan bahwa melalui kata-kata ini, Perbuatlah ini menjadi peringatan akan aku, Kristus tidak menjadikan para Rasul sebagai imam-imam; atau tidak menahbiskan bahwa mereka dan imam-imam lain harus mempersembahkan tubuhNya dan darahNya sendiri, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons on the Sacrifice of the Mass, Canon 2).

SESI KEDUAPULUHDUA: KANON TENTANG PERSEMBAHAN MISA: “Jika seseorang mengatakan bahwa persembahan Misa hanyalah dalam hal pujian dan syukur; atau bahwa misa hanyalah peringatan akan korban yang telah genap di atas salib, bukan suatu korban yang mendamaikan; atau bahwa misa hanya berguna bagi ia yang menerimanya, dan tidak boleh ditawarkan untuk mereka yang hidup dan yang mati, untuk dosa-dosa, penghukuman, pemuasan, dan keperluan-keperluan lain, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons on the Sacrifice of the Mass, Canon 3).

SESI KEDUAPULUHDUA: KANON TENTANG PERSEMBAHAN MISA: “Jika seseorang mengatakan bahwa adalah penipuan untuk merayakan Misa untuk menghormati santo-santa untuk mendapatkan pertolongan mereka di hadapan Allah, sebagaimana dilakukan oleh Gereja, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons on the Sacrifice of the Mass, Canon 5).

SESI KEDUAPULUHTIGA: KANON TENTANG SAKRAMEN IMAMAT: “Jika seseorang mengatakan bahwa tidak ada dalam Perjanjian Baru suatu imamat yang kelihatan dan eksternal, atau bahwa tidak ada kuasa untuk menguduskan dan menawarkan tubuh dan darah sejati Tuhan dan untuk mengampuni dan mempertahankan dosa, tetapi hanya ada jabatan dan pelayanan pemberitaan Injil; atau bahwa mereka yang tidak berkhotbah bukanlah imam sama sekali, BIARLAH DIA ANATHEMA (Canons on the Sacrament of Order, Canon 1).

SESI KEDUAPULUHTIGA: KANON TENTANG SAKRAMEN IMAMAT: “Jika seseorang mengatakan bahwa para uskup yang dipilih berdasarkan otoritas Paus Roma bukanlah uskup-uskup yang benar dan sah, tetapi hanyalah penipuan manusia, BIARLAH DIA ANATHEMA (Canons on the Sacrament of Order, Canon 8).

SESI KEDUAPULUHLIMA: DEKRIT TENTANG PURGATORI [API PENYUCIAN]: “ Karena Gereja Katolik, diajar oleh Roh Kudus, telah, mengikuti tulisan-tulisan suci dan tradisi kuno Bapa-Bapa, mengajar dalam konsili-konsili kudus dan juga baru-baru ini dalam konsili ekumenikal ini bahwa ada suatu purgatori [api penyucian], dan bahwa jiwa-jiwa yang ditahan di sana tertolong oleh kebaikan-kebaikan orang-orang beriman dan terutama oleh persembahan yang diterima di altar, konsil kudus ini memerintahkan para uskup agar mereka dengan rajin berusaha agar doktrin sehat mengenai purgatori, yang diteruskan dari Bapa-Bapa dan konsili-konsili kudus, dipercaya dan dipertahankan oleh orang-orang beriman Kristus, dan di mana-mana diajarkan dan dikhotbahkan.”

SESI KEDUAPULUHLIMA: TENTANG DOA-DOA, PENGHORMATAN, DAN PENINGGALAN-PENINGGALAN SANTO-SANTA DAN TENTANG PATUNG-PATUNG KUDUS: “Konsil kudus ini memerintahkan semua uskup dan lainnya yang memegang jabatan pengajaran dan cura animarum (Editor: suatu jabatan pengajar dalam Katolik), bahwa seiring dengan praktek Gereja yang Katolik dan Rasuli, yang diterima dari zaman primitif agama Kristen, dan bersamaan dengan pengajaran Bapa-Bapa kudus yang seia sekata dan dekrit-dekrit konsili-konsili kudus, agar mereka lebih dari hal lain mengajarkan dengan tekun orang-orang beriman dalam hal doa-doa dan bantuan dari para santo-santa, penghormatan kepada peninggalan-peninggalan, dan pemakaian patung-patung yang sah, mengajarkan mereka bahwa para santo-santa yang memerintah bersama dengan Kristus menaikkan doa mereka kepada Allah demi manusia, bahwa adalah baik dan bermanfaat untuk menyebut mereka dan mengharapkan doa-doa, bantuan dan dukungan mereka untuk mendapatkan kasih karunia dari Allah melalui AnakNya,Yesus Kristus Tuhan kita, yang adalah satu-satunya penebus dan juruselamat kita; dan agar mereka berpikir tidak saleh siapapun yang menyangkal para santo-santa yang menikmati kebahagiaan kekal di Surga harus dilibatkan, atau yang mengatakan bahwa santo-santa tidak berdoa bagi manusia, atau bahwa permohonan kita kepada mereka untuk berdoa bagi tiap-tiap kita secara individu adalah pemberhalaan, atau bahwa hal itu berlawanan dengan Firman Allah atau tidak konsisten dengan adanya satu pengantara antara Allah dan manusia, Yesus Kristus, atau bahwa adalah bodoh untuk berdoa dalam suara ataupun pikiran kepada mereka yang memerintah di Surga.”

PENGAKUAN IMAN PAUS PIUS
Paus Pius IV (1559-1565) mengeluarkan suatu rangkuman keputusan-keputusan konsil tersebut dengan judul “Pengakuan Iman Paus Pius.” Kita akan mengutip sebagian dari pengakuan imanini, yang sejak saat itu sudah dianggap sebagai rangkuman otoritatif tentang iman Katolik:

“Saya mengaku juga, bahwa sungguh-sungguh dan sebenarnya ada tujuh sakramen hukum yang baru….yaitu, baptisan, peneguhan, ekaristi, pengakuan dosa, pengurapan orang sakit, imamat, dan pernikahan, dan bahwa mereka memberikan kasih karunia….”

“Saya mengaku juga, bahwa dalam Misa dipersembahkan kepada Allah suatu korban yang sejati, benar, dan bersifat mendamaikan bagi yang hidup maupun yang mati; dan bahwa, dalam korban Ekaristi yang maha kudus, sunguh-sungguh dan benar-benar dan secara substansi ada tubuh dan darah, bersama dengan jiwa dan keilahian Tuhan kita Yesus Kristus….”

“Saya senantiasa memegang bahwa ada purgatori, dan bahwa jiwa-jiwa yang ditahan di sana ditolong oleh perbuatan-perbuatan baik orang-orang beriman.”

“Demikian juga, bahwa para santo-santa yang memerintah bersama Kristus, harus dihormati dan diminta bantuannya; bahwa mereka menaikkan doa-doa kepada Allah bagi kita; dan bahwa peninggalan-peninggalan mereka harus dihormati.”

“Saya menegaskan sekuat-kuatnya, bahwa patung-patung Kristus, dan bunda Allah, yang perawan selalu, dan juga santo-santa lainnya, harus dimiliki dan disimpan; dan bahwa penghormatan dan penghargaan yang sama harus diberikan kepada mereka.”

“Saya juga menegaskan bahwa kuasa pengampunan dosa ditinggalkan oleh Kristus di dalam gereja, dan bahwa pemakaian kuasa ini sungguh bermanfaat bagi orang-orang Kristen.”

“Saya mengakui Gereja Roma Kudus Katolik dan Rasuli, ibu dan bunda dari semua gereja. Dan saya berjanji untuk bersumpah setia kepada uskup Roma, penerus santo Petrus, pangeran para Rasul, dan wakil Kristus.”

“Saya juga mengaku, dan tanpa keraguan menerima semua hal lain yang diberikan, didefinisikan, dan dideklarasikan, oleh kanon-kanon kudus dan konsili-konsili umum, dan terutama oleh Konsil kudus Trent. Dan juga, saya menghakimi, menolak, dan menganathemakan, semua hal yang berlawanan dengannya, dan semua kesesatan yang dihukum, ditolak, dan dianathemakan oleh gereja.

“Inilah iman Katolik yang sejati, yang tanpanya tidak seorang pun dapat diselamatkan…” (Miller’s Church History, hal. 1081-1082).

Pernyataan-pernyataan ini dan kutuk-kutuk ini dijalankan dalam penganiayaan yang berdarah yang ditimpakan oleh Roma kepada orang-orang Kristen sejati, dan Trent tidak pernah dibatalkan.

VATICAN II DAN TRENT

Konsili Vatican II (Editor: Sebuah konsili Katolik tahun 1962 hingga 1965, dan merupakan konsili umum Katolik yang terakhir) menyinggung Trent berpuluh-puluh kali, mengutip pernyataan-pernyataan konsili Trent sebagai sesuatu yang berotoritas, dan menegaskan ulang Trent di setiap kesempatan. The New Catholic Catechism mengutip Trent tidak kurang dari 99 kali. Ini baru dari perhitungan saya sendiri. Tidak ada sedikitpun petunjuk bahwa pernyataan-pernyataan dalam Konsili Trent telah dibatalkan oleh Roma. Pada saat pembukaan Konsili Vatikan yang Kedua, Paus Yohanes XXIII mengatakan, “Saya menerima sepenuhnya semua yang telah ditentukan dan dideklarasikan dalam Konsili Trent.” Setiap Kardinal, Uskup, dan imam yang menjadi anggota Konsili tersebut juga menandatangani dokumen itu (Wilson Ewin, You Can Lead Roman Catholics to Christ, Quebec Baptist Mission, edisi 1990, hal. 41).

Perhatikan beberapa contoh bagaimana Vatican II memandang Trent:

“Prinsip-prinsip dogma yang telah diletakkan dalam Konsili Trent tetap berlaku…” (Constitution on the Sacred Liturgy, hal. 37).

“Jadi, mengikuti jejak kaki Konsili Trent dan Vatican I, Konsil ini ingin memberikan doktrin yang otentik tentang pewahyuan ilahi” (Constitution on Divine Revelation, hal. 678).

“[Kristus] secara substansi ada di sana melalui perubahan roti dan anggur yang, sebagaimana Konsili Trent memberitahu kita, tepat sekali diberi nama transubstansiasi” (Constitution on the Sacred Liturgy, hal. 110).

“Dengan cara ini, norma-norma liturgis Konsili Trent dalam banyak segi telah digenapi dan disempurnakan oleh Konsili Vatikan Kedua” (Constitution of the Sacred Liturgy, hal. 159).

Konsili yang kudus ini menerima dengan setia iman yang agung milik nenek moyang kita dalam persekutuan hidup yang eksis antara kita dan saudara-saudara kita yang ada di kemuliaan Sorga atau yang masih sedang dimurnikan setelah kematian mereka; dan Konsili ini mengajukan kembali dekrit-dekrit Konsili Nicea Kedua, Konsili Florence, dan Konsili Trent” (Constitution on the Church, hal. 377).

“Para Bapa Konsili tersebut, meneruskan karya yang dimulai oleh Konsili Trent, dengan yakin mempercayakan kepada para superior dan professor di seminari-seminary, tugas pendidikan imam-imam Kristus yang akan datang dalam semangat pembaharuan yang didukung oleh Konsili itu sendiri” (Decree on the Training of Priests, hal. 654).

Saudara-saudara, berhati-hatilah terhadap Gereja Roma Katolik dan berhati-hatilah juga terhadap para Injili dan Baptis yang sedang berafiliasi dengan Roma hari ini, yang berbicara dengan lembut mengenai kesalahan-kesalahan Roma, yang mengajarkan orang-orang non-Katolik untuk bergandenga tangan dengan Katolik demi penyelesaian isu-isu sosial-politik hari ini, yang berpura-pura bahwa Gereja Roma Katolik tidak berhubungan dengan Pelacur dalam Wahyu 17.

“Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya” (Wahyu 18:4).

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya” (Roma 16:17-18).

“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim. 3:5).

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu” (2 Kor. 6:14-17).

This entry was posted in DOKTRIN. Bookmark the permalink.

7 Responses to Pengajaran Resmi Katolik

  1. TUNTUL says:

    terima kasih atas kata-katanya…. moga kalian diampuni oleh Tuhan…..
    p/s: korang ni suka jaga tepi kain orang!!!!!!!!!!

    jadi korang la konon ajaran yang betul!!!!!!!!!!!! emmm….

  2. Maria Skolastika Brigita says:

    Hampir 2000 tahun yang lalu, Yesus
    Kristus menetapkan Gereja-Nya di
    dunia. Selama berabad- abad,
    Gereja-Nya itu tetap satu,
    memenuhi perkataan St. Paulus
    akan “satu Tuhan, satu iman, satu
    baptisan”, dan melestarikan
    ajaran-ajaran Kitab Suci serta
    tradisi-tradisi Kristiani. Namun
    demikian, bermula dari Reformasi
    Protestan pada tahun 1500,
    sekonyong-konyong, dengan
    sangat menyedihkan, kekristenan
    terpecah-belah menjadi begitu
    banyak sekte. Kaum pemrotes ini
    (yang kemudian dikenal sebagai
    Protestan) menolak iman Katolik
    dan melepaskan diri dari Gereja.
    Mereka mendirikan gereja-gereja
    baru dengan hukum-hukum baru
    serta pemimpin-pemimpin baru.
    Banyak di antara sekte-sekte ini,
    seiring dengan berjalannya waktu,
    akhirnya terpecah-belah lagi
    menjadi sekte-sekte baru yang
    saling tidak bersesuaian satu
    dengan lainnya. Hingga saat ini,
    tercatat kurang lebih 30.000 sekte
    Protestan yang berbeda, masing-
    masing percaya akan ajaran
    mereka masing-masing, yang saling
    bertentangan satu dengan lainnya.
    Sementara itu, tetap hanya ada
    satu Gereja Katolik Roma; yang
    tetap satu dalam iman dan
    kepercayaan setelah 2000 tahun
    lamanya. Yang menjadikan Gereja
    Katolik unik adalah keempat
    “sifat” atau ciri-ciri hakikat
    Gereja, yaitu, Satu, Kudus, Katolik
    dan Apostolik.
    SATU
    Gereja Katolik adalah SATU karena
    semua anggotanya
    mempraktekkan satu iman, satu
    dalam komuni, dan ada di bawah
    Kepala Gereja yang satu, yaitu
    Paus, yang mewakili Kepala Gereja
    yang tidak kelihatan, yaitu Yesus
    Kristus (Yoh 10:16). Di negara mana
    pun kita tinggal, ajaran-ajaran
    pokok iman dan kepercayaan yang
    sama akan membimbing iman kita
    sebagai seorang Katolik,
    mempersatukan kita – semua
    orang Katolik di seluruh dunia –
    dalam iman. Di gereja-gereja
    Katolik di seluruh dunia kita akan
    mendengar – walaupun dalam
    bahasa yang berbeda- beda – doa-
    doa dasar yang sama (Bapa Kami,
    Salam Maria, Kemuliaan, dll),
    pokok-pokok katekese yang sama,
    dan yang terutama Misa Kudus
    yang sama (yang paling utama
    dalam mempersatukan segala doa
    dan karya Gereja). Oleh karena
    segenap uskup, imam dan awam
    Katolik semuanya dipersatukan di
    bawah pimpinan yang sama, Bapa
    Paus, maka dimungkinkanlah
    persatuan yang sedemikian itu.
    Kristus Sendiri merencanakannya
    demikian ketika Ia memilih
    keduabelas Rasul-Nya (para imam
    dan uskup pertama Gereja) serta
    menetapkan Petrus sebagai kepala
    mereka.
    KUDUS
    Gereja Katolik adalah KUDUS
    karena pendirinya, Yesus Kristus,
    adalah kudus; Gereja mengajarkan
    ajaran-ajaran -Nya yang kudus;
    yang memungkinkan kita menjadi
    kudus (1 Pet 1:15 ). Yesus Kristus,
    Kepala Gereja yang tak nampak,
    menyatakan kekudusan-Nya lewat
    ajaran-ajaran -Nya yang murni dan
    tanpa salah, yang Ia wartakan
    semasa hidup-Nya di dunia, dan
    lewat mukjizat-mukjizat, serta
    tindakan-tindakan tanpa cela yang
    dilakukan-Nya. Seperti orang
    banyak pada zaman-Nya telah
    menyatakannya, hanya Tuhan
    Sendiri-lah, yang dapat melakukan
    hal-hal demikian. Yesus
    menghendaki kita agar mengikuti-
    Nya (Mat 5:48 ), dan melalui Gereja
    dan ketujuh Sakramen yang Ia
    tetapkan, Yesus menunjukkan
    jalan-Nya kepada kita. Seperti
    kepala memimpin tubuh, demikian
    juga Yesus memimpin Tubuh-Nya,
    yaitu Gereja, yang memungkinkan
    kita, melalui Dia, menjadi kudus
    dan dengan demikian mewarisi
    hidup yang kekal (Rm 8:17). Setiap
    Sakramen dan setiap ajaran
    Gereja mendekatkan kekudusan
    ke dalam jangkauan kita, seperti
    telah dibuktikan oleh begitu
    banyak para kudus dalam Gereja
    Katolik.
    KATOLIK
    Gereja Katolik adalah KATOLIK
    (bahasa Yunani, artinya ‘umum’
    atau ‘merangkul semua’) dalam
    tiga hal. Umum menurut waktu ,
    karena sejak saat Kristus
    mengutus para Rasul-Nya hingga
    saat ini, Gereja berdiri, mengajar,
    serta berkarya, untuk membawa
    orang datang kepada Kristus.
    Umum menurut tempat, sebab
    Gereja tidak terikat pada suatu
    bangsa tertentu, melainkan
    terbuka bagi semua orang (Mat
    28:19) dan sesungguhnya,
    jangkauan Gereja lebih luas
    mencakup berbagai bangsa
    dibandingkan agama lain mana
    pun. Umum menurut ajarannya,
    sebab Gereja menawarkan ajaran-
    ajaran dan sakramen- sakramen
    yang sama, di mana pun, dalam
    bahasa apa pun, dan dalam
    berbagai tingkatan sosial, mulai
    dari yang kaya hingga yang miskin.
    Lagipula, sesuai janji Yesus Sendiri,
    Gereja akan tetap terus demikian
    hingga akhir jaman.
    APOSTOLIK
    Gereja Katolik adalah APOSTOLIK
    karena didirikan oleh Kristus atas
    para apostolos (bahasa Latin,
    artinya rasul) dan senantiasa
    dipimpin oleh para penerus
    mereka. Setelah Kristus
    menetapkan keduabelas rasul-Nya
    (Lukas 6:14) sebagai para imam
    dan para uskup pertama Gereja,
    selanjutnya mereka menetapkan
    para rasul lain (Kis 1:23) , para
    diakon (Kis 6: 5), para imam (1Tim
    4:14; Titus 1:5 ), para uskup (Flp 1:1 )
    dan para murid guna melestarikan
    serta menyebarluaskan ajaran-
    ajaran Kristus. Paus Yohanes
    Paulus II adalah Uskup Roma yang
    ke-264 ; St. Petrus yang pertama.
    Uskup Roma merupakan pemimpin
    dari semua uskup di seluruh dunia,
    sama seperti St. Petrus dipilih
    Kristus untuk menjadi pemimpin
    atas para rasul (Mat 16:18; Yoh
    21:15). Uskup Roma lebih dikenal
    dengan sebutan “Paus ”, yang
    berasal dari kata Latin papa,
    artinya “Bapa ”.

  3. Maria Magdalena Suparman says:

    Setiap orang Katolik sepatutnya
    dapat memberikan suatu jawaban
    yang mantap dan mendalam atas
    pertanyaan, “Mengapa kamu
    seorang Katolik?” Tentu saja, bagi
    tiap-tiap invidivu, jawabannya
    bersifat amat pribadi dan mungkin
    agak berbeda dari jawaban orang
    lain. Saya harap, tak seorang pun
    dari kita yang telah dewasa akan
    sekedar menjawab, “Yah, karena
    orangtua membaptisku Katolik”
    atau “Aku dibesarkan secara
    Katolik” atau “Keluargaku
    semuanya Katolik.” Bukan. Bagi
    masing-masing kita, jawabannya
    haruslah pribadi, dari lubuk hati
    dan penuh keyakinan. Saya akan
    memberikan jawaban saya atas
    pertanyaan ini.
    Pertama-tama, saya akan
    mengatakan bahwa saya seorang
    Katolik karena inilah Gereja yang
    didirikan Yesus Kristus. Sejarahwan
    paling ahli sekalipun akan harus
    mengakui bahwa Gereja Kristen
    pertama yang ada sejak jaman
    Kristus adalah Gereja Katolik
    Roma. Perpecahan besar pertama
    dalam kekristenan baru muncul
    pada tahun 1054, ketika Patriark
    Konstantinopel berselisih dengan
    paus atas siapa yang lebih
    berwenang; sang Patriark
    mengekskomunikasi paus, yang
    ganti mengekskomunikasi
    Patriark, dan lahirlah Gereja-
    gereja “Orthodox” . Kemudian,
    pada tahun 1517, Martin Luther
    memicu gerakan Protestan, dan ia
    diikuti oleh Calvin, Zwingli dan
    Henry VIII. Sejak itu,
    Protestanisme telah terpecah-
    pecah menjadi banyak Gereja-
    gereja Kristen lainnya.
    Namun demikian, satu-satunya
    Gereja dan Gereja Kristen pertama
    yang didirikan Kristus adalah
    Gereja Katolik. Pernyataan ini
    tidak berarti bahwa tidak ada
    kebaikan dalam Gereja-gereja
    Kristen lainnya. Tidak pula berarti
    bahwa orang-orang Kristen lainnya
    tidak dapat masuk surga. Tetapi,
    sungguh berarti bahwa ada
    sesuatu yang istimewa mengenai
    Gereja Katolik. Konsili Vatican II
    dalam “Konstitusi Dogmatis
    tentang Gereja” memaklumkan
    bahwa kepenuhan dari sarana-
    sarana keselamatan ada dalam
    Gereja Katolik sebab inilah Gereja
    yang didirikan Kristus (No. 8) .
    Alasan kedua mengapa saya
    seorang Katolik ialah karena
    suksesi apostolik. Yesus
    mempercayakan otoritas-Nya
    kepada para rasul. Ia memberikan
    otoritas khusus kepada Petrus,
    yang disebut-Nya sebagai “batu
    karang” dan kepada siapa Ia
    mempercayakan kunci Kerajaan
    Allah. Sejak jaman para rasul,
    otoritas ini telah diwariskan
    melalui Salramen Imamat dari
    uskup ke uskup, dan kemudian
    diperluas ke imam dan diakon.
    Uskup kita sendiri, andai mau,
    dapat menelusuri kembali
    otoritasnya sebagai seorang uskup
    hingga ke jaman para rasul. Bulan
    Mei yang lalu, diadakan tahbisan
    imamat di katedral kita. Dalam
    tahbisan suci itu, Bapa Uskup
    menumpangkan tangannya ke atas
    kepala calon imam yang akan
    ditahbiskan. Dalam saat khidmad
    itu, suksesi apostolik diwariskan.
    Dalam terang iman, orang dapat
    melihat bukan saja Bapa Uskup,
    melainkan St Petrus dan St Paulus,
    bahkan Yesus Sendiri,
    menyampaikan tahbisan suci. Tidak
    ada uskup, imam ataupun diakon
    dalam Gereja kita yang
    menahbiskan dirinya sendiri atau
    memproklamirkan dirinya sendiri;
    tetapi otoritas itu berasal dari
    Yesus Sendiri dan dijaga oleh
    Gereja.
    Alasan ketiga mengapa saya
    seorang Katolik adalah karena kita
    percaya akan kebenaran, yakni
    kebenaran mutlak yang diberikan
    oleh Tuhan Sendiri. Kristus
    menyebut Diri-Nya sebagai “jalan
    dan kebenaran dan hidup” (Yoh
    14:6) . Ia menganugerahkan kepada
    kita Roh Kudus, yang disebut-Nya
    Roh Kebenaran (Yoh 14:17), yang
    akan mengajarkan segala sesuatu
    kepada kita dan yang akan
    mengingatkan kita akan semua
    yang telah Ia ajarkan (Yoh 14:26).
    Kebenaran Kristus telah dipelihara
    dalam Kitab Suci. Konsili Vatican II
    dalam “Konstitusi Dogmatis
    tentang Wahyu Ilahi”
    memaklumkan bahwa, “segala
    sesuatu, yang dinyatakan oleh
    para pengarang yang ilhami atau
    hagiograf (penulis suci), harus
    dipandang sebagai pernyataan Roh
    Kudus, maka harus diakui, bahwa
    Kitab Suci mengajarkan dengan
    teguh dan setia serta tanpa
    kekeliruan kebenaran, yang oleh
    Allah dikehendaki supaya
    dicantumkan dalam kitab-kitab
    suci demi keselamatan kita” (No.
    11). Kebenaran ini terus dipelihara
    dan diterapkan pada suatu masa
    dan budaya tertentu oleh
    magisterium, yakni otoritas
    mengajar Gereja. Sementara kita
    menghadapi berbagai macam issue
    seperti bioetika atau euthanasia –
    masalah-masalah yang tak pernah
    dibicarakan secara spesifik dalam
    Kitab Suci – betapa beruntungnya
    kita mempunyai Gereja yang
    mengatakan “Cara hidup seperti
    ini adalah benar atau cara ini
    salah menurut kebenaran Kristus.”
    Tak heran, Gereja Katolik menjadi
    berita utama di surat-surat kabar;
    kita adalah satu-satunya Gereja
    yang berpendirian tegas dan
    mengatakan, “Ajaran ini adalah
    benar selaras dengan pemikiran
    Kristus.”
    Alasan lain mengapa saya seorang
    Katolik adalah karena sakramen-
    sakramen kita. Kita percaya akan
    ketujuh sakramen yang
    dianugerahkan Yesus kepada
    Gereja. Masing-masing sakramen
    menangkap suatu unsur penting
    dari kehidupan Kristus, dan melalui
    kuasa Roh Kudus mendatangkan
    bagi kita keikutsertaan dalam
    kehidupan ilahi Allah. Sebagai
    contoh, coba renungkan betapa
    anugerah mahaberharga kita
    boleh menyambut Ekaristi Kudus,
    Tubuh dan Darah Tuhan kita, atau
    menyadari bahwa dosa-dosa kita
    telah sungguh diampuni dan jiwa
    kita dipulihkan setiap kali kita
    menerima absolusi dalam
    Sakramen Tobat.
    Dan yang terakhir, saya seorang
    Katolik karena orang-orang yang
    membentuk Gereja. Saya
    mengenangkan begitu banyak para
    kudus: St Petrus dan St Paulus
    yang memelihara agar Injil hidup
    pada masa-masa awali. Pada masa
    penganiayaan Romawi, para martir
    awal Gereja – seperti St Anastasia,
    St Lusia, St Yustinus atau St
    Ignatius dari Antiokhia, yang pada
    tahun 100 menyebut Gereja
    “Katolik” – membela iman dan
    menderita aniaya maut
    karenanya. Pada Abad-abad
    Kegelapan, ketika banyak hal
    sungguh “gelap”, memancarlah
    terang yang benderang dari St
    Fransiskus, St Dominikus dan St
    Katarina dari Siena. Pada masa
    gerakan Protestan, ketika bidaah
    mengoyak Gereja, Gereja dibela
    oleh St Robertus Bellarmino dan St
    Ignatius Loyola, para reformator
    sejati. Saya berpikir mengenai
    para kudus yang hidup di jaman
    kita, seperti Moeder Teresa atau
    Paus Yohanes Paulus II, yang dari
    hari ke hari melakukan karya
    kudus Allah. Ada begitu banyak
    para kudus yang mengilhami
    masing-masing kita untuk menjadi
    warga Gereja yang baik.
    Tetapi ada mereka-mereka yang
    lain juga. Pada waktu Misa,
    arahkanlah pandangan ke
    sekeliling gerejamu. Lihatlah
    pasangan-pasangan suami isteri
    yang berjuang untuk mengamalkan
    Sakramen Perkawinan dalam abad
    yang memperturutkan hawa nafsu
    dan perselingkuhan. Lihatlah
    orang-orangtua yang rindu
    mewariskan iman kepada anak-
    anak mereka. Lihatlah kaum muda
    yang berjuang untuk mengamalkan
    iman kendati dunia yang penuh
    pencobaan. Lihatlah kaum lanjut
    usia yang tetap setia kendati
    perubahan-perubahan dalam dunia
    dan Gereja. Lihatlah para imam
    dan kaum religius yang
    membaktikan hidup mereka demi
    melayani Tuhan dan Gereja-Nya.
    Ada begitu banyak orang yang
    membentuk Gereja kita.
    Ya, tak seorang pun sempurna.
    Kita berdosa. Itulah sebabnya
    mengapa salah satu doa terindah
    dalam Perayaan Misa dipanjatkan
    sebelum tanda damai; kita berdoa,
    “Tuhan Yesus Kristus, jangan
    memperhitungkan dosa kami,
    tetapi perhatikanlah iman Gereja-
    Mu.” Ya, kendati segala
    kelemahan manusia, Gereja,
    sebagai lembaga yang didirikan
    oleh Kristus, terus melaksanakan
    misi-Nya di dunia ini.
    Singkat kata, itulah alasan-alasan
    mengapa saya seorang Katolik dan
    seorang warga Gereja Katolik
    Roma. Alasan-alasan ini bukanlah
    asal. Melainkan, mencerminkan
    permenungan mendalam dan
    pergulatan, setelah dibaptis
    Katolik, setelah melewatkan masa
    pendidikan di sekolah St
    Bernadette, setelah lulus dari SMA
    West Springfield, dan setelah
    pergumulan sengit dengan iman
    sepanjang hari-hari perkuliahan di
    William and Mary dan kemudian di
    Seminari. Saya harap setiap orang
    Katolik dapat dengan bangga
    memberikan suatu jawaban yang
    jelas dan mendalam atas
    pertanyaan, “Mengapa kamu
    seorang Katolik?”

  4. Agatha Regina says:

    Pernah suatu ketika, seorang
    pemuda dari suatu Gereja Kristen
    non-Katolik menyatakan
    keberatannya akan kepercayaan
    gerejanya sendiri yang
    menyatakan bahwa hanya orang
    Kristenlah yang akan
    diselamatkan, “Lalu ke mana
    perginya semua orang yang non-
    Kristen?” Ini merupakan
    pertanyaan besar dari abad ke
    abad. Apakah Allah
    mengaruniakan keselamatan
    hanya kepada orang Kristen saja?
    Ini juga yang sebenarnya
    merupakan masalah rumit yang
    dihadapi Gereja sepanjang sejarah.
    Masalah ini antara lain
    menimbulkan kesulitan Gereja
    dalam menyampaikan Kabar
    Gembira, khususnya di dunia Timur
    yang penuh dengan spiritualitas-
    spiritualitas yang sangat
    mendalam dan mengakar. Suatu
    agama atau kepercayaan yang
    berani membuat pernyataan
    bahwa di luar apa yang mereka
    ajarkan tidak ada keselamatan
    akan segera dicap sombong dan
    gila. Cobalah menempatkan diri
    Anda saat ini dalam kalangan
    penganut agama asli di salah satu
    negara Asia (ini pasti tidak akan
    terlalu sulit bagi Anda), lalu suatu
    saat Anda pergi ke acara
    kebaktian agama ‘baru ‘ dan
    mendengarkan seorang penginjil
    yang dengan lantang mengatakan
    di atas mimbar bahwa semua
    orang yang tidak mau menerima
    ajarannya akan masuk ke dalam
    neraka! Apa yang akan Anda
    rasakan? Apa pikiran Anda tentang
    Allah agama ‘baru ‘ itu saat itu?
    Inilah Allah yang tidak adil dan
    kejam. Bagaimana mungkin para
    pendahulu Anda yang hidup
    sungguh-sungguh saleh dan suci
    menurut ajaran kepercayaan Anda
    tiba-tiba dicampakkan ke dalam
    api neraka? Bagaimana mungkin
    orang-orang yang Anda kenal, yang
    hidup dengan tatanan moral
    kebajikan yang begitu tinggi, harus
    masuk ke dalam kebinasaan kekal
    semata-mata hanya karena
    mereka tidak pernah
    mendengarkan ajaran agama
    ‘baru’ itu? Sungguh tidak masuk
    akal!
    Karena masalah ini cukup rumit
    dan sepanjang sejarah telah
    banyak dipertentangkan, saya
    mengajak Anda untuk secara
    bertahap melihat permasalahan
    ini. Dan juga sebelum Anda
    membaca lebih lanjut, saya mohon
    dengan sangat kepada Anda untuk
    tidak membaca uraian saya
    sepotong-sepotong, melainkan
    membacanya secara keseluruhan.
    Keterbatasan saya telah membuat
    uraian berikut tidak jelas jika
    dibaca sebagian saja. Oleh karena
    itu, jika Anda tidak yakin dapat
    menyelesaikan artikel ini, baik
    secara langsung maupun bertahap,
    saya mohon dengan hormat untuk
    tidak meneruskan sebab dapat
    menimbulkan kesalahpahaman
    yang tidak perlu.
    ARTI KESELAMATAN
    Pertama-tama kita perlu mengerti
    apa arti keselamatan menurut
    ajaran Kristen. Allah mengasihi
    manusia sebab Ia telah
    menciptakan manusia menurut
    gambar dan rupa-Nya sendiri. Akan
    tetapi, karena kesombongan dan
    ketidaktaatannya, manusia jatuh
    ke dalam dosa dan akibatnya
    manusia terpisah dari Allah. Allah
    sendiri tidak pernah berhenti
    mengasihi manusia sebab Ia tidak
    dapat mengingkari Diri-Nya Sendiri
    yang adalah kasih. Ia tidak
    menghendaki kebinasaan manusia.
    Sehingga pada kepenuhan waktu
    Ia mengutus Putera-Nya yang
    tunggal, Yesus Kristus, turun ke
    dunia untuk menebus dosa seluruh
    umat manusia, dari manusia
    pertama sampai manusia terakhir.
    Dengan inkarnasi, penderitaan,
    wafat, dan kebangkitan-Nya, Yesus
    telah memulihkan kembali
    hubungan manusia dengan Allah.
    Atas jasa Yesus Kristus, manusia
    dapat kembali menikmati hidup
    bersatu dengan Allah dalam
    keabadian. Inilah arti
    keselamatan, ditebus dari
    keadaan dosa kepada kehidupan
    dalam kebahagiaan abadi di surga.
    Akan tetapi, di balik semua karya
    keselamatan Allah ini, ada sebuah
    misteri besar yang hanya dapat
    dijawab oleh Allah sendiri, yakni:
    misteri kehendak bebas manusia.
    Walaupun mahakuasa, Allah
    seolah-olah membatasi diri-Nya
    sendiri dengan membiarkan
    manusia mengambil keputusannya
    sendiri secara bebas, menerima
    atau tidak menerima, percaya
    atau tidak percaya akan wahyu-
    Nya, dalam hal ini wahyu-Nya yang
    terbesar, Putera-Nya sendiri: Yesus
    Kristus. Apakah semua manusia
    bisa diselamatkan? Ya, jasa Yesus
    cukup untuk menebus semuanya.
    Lagipula, Allah sejak semula
    menghendaki agar semua manusia
    diselamatkan (bdk. 1 Tim 2:3- 6).
    Akan tetapi, apakah semua
    manusia mau menerima
    keselamatan ini? Dengan sedih
    kita harus mendapati kenyataan
    bahwa justru dari antara umat
    manusia sendiri ada yang menolak
    keselamatan. Mengapa? Kita tidak
    tahu sebab, sekali lagi, ini adalah
    misteri kehendak bebas manusia.
    “Terang telah datang ke dalam
    dunia, tetapi manusia lebih
    menyukai kegelapan dari pada
    terang … Barangsiapa percaya
    kepada Anak, ia beroleh hidup
    yang kekal, tetapi barangsiapa tidak
    taat kepada Anak, ia tidak akan
    melihat hidup, melainkan murka
    Allah tetap ada di atasnya … dan
    mereka yang telah berbuat baik
    akan keluar dan bangkit untuk
    hidup yang kekal, tetapi mereka
    yang telah berbuat jahat akan
    bangkit untuk dihukum.” (Yoh
    3:19. 36; 5:29) .
    Tidak semua manusia mencapai
    keselamatan dan bagi mereka
    yang tidak berhasil mencapainya
    telah tersedia hukuman. Apakah
    hukumannya? Kebinasaan kekal
    atau yang biasa kita sebut dengan
    istilah neraka.
    KESELAMATAN, MILIK SIAPA?
    Yesus bersabda: “Akulah jalan dan
    kebenaran dan hidup. Tidak ada
    seorangpun yang datang kepada
    Bapa, kalau tidak melalui
    Aku.” (Yoh 14:6 ). Dan ini pulalah
    yang menjadi cetusan keyakinan
    para pengikut-Nya, “ Dan
    keselamatan tidak ada di dalam
    siapapun juga selain di dalam Dia,
    sebab di bawah kolong langit ini
    tidak ada nama lain yang diberikan
    kepada manusia yang olehnya kita
    dapat diselamatkan. ” (Kis 4: 12).
    Apakah ini berarti bahwa hanya
    orang Kristen – yang dari namanya
    berarri pengikut Kristus – saja yang
    berhak akan keselamatan atau
    kehidupan kekal?
    Jika kita ingin menafsirkan arti
    kata-kata Yesus, seperti yang
    harus dilakukan setiap kali kita
    ingin menafsirkan kata-kata
    dalam Kitab Suci, kita harus
    melihat konteks keseluruhan lnjil.
    Yesus datang untuk semua orang.
    Ia turun ke dunia bukan hanya
    sebagai Anak Daud, tetapi juga
    sebagai Anak Manusia, Anak Adam.
    Jika hanya para pengikut Kristus,
    yang baru muncul setelah Yesus,
    saja yang diselamatkan,
    bagaimana nasib Adam, Nuh,
    Abraham, Ishak, Yakub, Musa,
    Daud, Elia, dan semua orang yang
    kita kenal sebagai orang-orang
    kudus dalam Perjanjian Lama?
    Penebusan Kristus melingkupi
    seluruh dunia dan seluruh masa:
    dulu, sekarang, dan masa yang
    akan datang. “Aku berkata
    kepadamu, sesungguhnya sebelum
    Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh
    8:58) . “Sebab di dalam Dia Allah
    telah memilih kita sebelum dunia
    ini dijadikan.” (Ef 1:4 a) . Kerahiman
    Allah tidak mengenal diskriminasi.
    Semua manusia adalah ciptaan-
    Nya, menurut gambar dan rupa-
    Nya. Inilah nilai universal karya
    penebusan Kristus. Apabila Yesus
    menebus Adam, Nuh, Abraham, dan
    semua orang kudus Perjanjian
    Lama, yang belum pernah
    mendengar tentang Dia, tentu
    rahmat penebusan-Nya ini akan
    menjangkau pula mereka, yang
    walaupun hidup setelah Dia, tidak
    pernah mendengar Kabar Gembira
    tentang Dia bukan karena
    kesalahan mereka sendiri.
    Ada dua aspek penting dalam hal
    ini. Yang pertama, mereka bisa
    diselamatkan, tetapi tetap atas
    jasa Yesus Kristus dan melalui Dia-
    lah mereka akan mencapainya.
    Mereka yang bukan karena
    kesalahan mereka sendiri tidak
    pernah mendengar kabar akan
    Yesus Kristus, pada akhir zaman
    akan diadili oleh satu hakim yang
    sama, Yesus Kristus. Kedua,
    mereka akan diadili menurut
    ukuran kerahiman Allah
    berdasarkan hati nurani dan
    kebebasan kehendak masing-
    masing pribadi. Allah menciptakan
    manusia untuk Diri-Nya Sendiri.
    Oleh sebab itulah – seperti yang
    dikatakan oleh Blaise Pascal – di
    dalam diri manusia ada suatu
    kekosongan yang hanya dapat
    dipenuhi oleh Allah. Santo
    Agustinus mengerti akan hal ini
    saat ia berdoa: “Engkau
    menciptakan kami untuk-Mu , dan
    jiwa kami tidak akan tenang
    sebelum beristirahat di dalam
    Engkau, ya Tuhan.”
    Para kudus Perjanjian Lama,
    sekalipun belum pernah bertemu
    dengan Yesus secara fisik,
    sebenarnya telah mengenal Dia di
    dalam kekekalan sebagai jalan
    menuju kehidupan. Wahyu- wahyu
    yang mereka terima, ditanggapi
    mereka dengan sungguh-sungguh
    sehingga mereka juga oleh Yesus
    Kristus ditentukan menjadi anak-
    anak Allah di dalam kasih-Nya
    (bdk. Ef 1: 5). Demikian juga
    misalnya: suku-suku terpencil di
    pedalaman Irian yang belum
    pernah menerima pewartaan
    Kabar Gembira secara langsung,
    juga menerima rahmat penebusan
    Kristus dan akan diselamatkan jika
    mereka mengikuti hati nurani
    mereka untuk mengabdi Allah
    yang esa dan melakukan
    kehendak-Nya. Sebagaimana
    diajarkan secara jelas oleh Gereja
    melalui Konstitusi Dogmatik
    tentang Gereja, Konsili Vatikan II,
    “Mereka dapat mencapai
    keselamatan jika tanpa kesalahan
    dari pihak mereka sendiri tidak
    mengenal Kabar Gembira Kristus
    atau Gereja-Nya, namun secara
    tulus mencari Allah dan,
    digerakkan oleh rahmat, berjuang
    dalam upaya-upaya mereka untuk
    melaksanakan kehendak-Nya
    sebagaimana yang dimengerti
    mereka melalui suara hati
    nurani.” (No.16 ). Manusia tidak
    akan dapat mengingkari kodratnya
    yang utama dan pertama-tama
    sebab ia telah dikaruniai akal budi
    dan hati nurani untuk mengerti.
    Dan “karena apa yang dapat mereka
    ketahui tentang Allah nyata bagi
    mereka, sebab Allah telah
    menyatakannya kepada mereka.
    Sebab apa yang tidak nampak dari
    pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang
    kekal dan keilahian-Nya, dapat
    nampak kepada pikiran dari karya-
    Nya sejak dunia ini diciptakan,
    sehingga mereka tidak dapat
    berdalih. Sebab sekalipun mereka
    mengenal Allah, mereka tidak
    memuliakan Dia sebagai Allah atau
    mengucap syukur kepada-Nya.
    Sebaliknya pikiran mereka menjadi
    sia-sia dan hati mereka yang bodoh
    menjadi gelap.” (Rm .1:19 -21).
    Pada waktu penghakiman terakhir
    mereka yang hidup dengan hati
    nurani yang murni dan
    melaksanakan kehendak Allah
    atas diri mereka akan mengerti
    siapa yang telah menebus mereka,
    yakni Yesus Kristus, sedangkan
    bagi mereka yang hidup dalam
    kegelapan dan mengingkari hati
    nuraninya, Kristus akan menjadi
    hakim yang menjatuhkan hukuman
    sekali dan untuk selama-lamanya,
    yakni kebinasaan yang kekal. Saat
    itu mereka tidak akan mempunyai
    alasan untuk berdalih lagi.
    GEREJA DAN KESELAMATAN
    Di luar Kristus tidak ada
    keselamatan. Semua manusia,
    entah Kristen ataupun non-Kristen
    hanya dapat mencapai Allah
    melalui dan atas jasa Yesus Kristus.
    Lalu apa fungsi Gereja dalam hal
    ini? Gereja sebagai Tubuh Kristus
    adalah realisasi Kerajaan Allah di
    dunia ini, bahtera yang
    mengangkut semua orang pilihan
    Allah kepada keselamatan. Oleh
    karena nilai esensialnya ini, Gereja
    tidak dapat menolerir adanya
    ajaran bahwa ada keselamatan di
    luar satu Gereja yang didirikan
    oleh Kristus sendiri. Seorang tokoh
    terkemuka dalam Gereja awali,
    Santo Siprianus mengungkapkan
    keyakinan Gereja ini dengan tegas
    dalam suratnya: “Bila Allah adalah
    Bapamu, maka Gereja adalah
    ibumu.” “Tidak seorang pun dapat
    diselamatkan kecuali di dalam
    Gereja.” “Di luar Gereja tidak ada
    keselamatan.” Dalam konteks
    Gereja awali, Gereja berarti hanya
    satu Gereja, yakni Gereja Kristus,
    Gereja Katolik. Santo Agustinus
    kemudian menambahkan: “Jika
    engkau tidak berada di dalam
    tubuh, engkau tidak berada di
    bawah kepala. Jika engkau
    memisahkan diri dari tubuh-Nya,
    itu tidak akan membuat Sang
    Kepala tubuh memisahkan diri dari
    tubuh-Nya. ‘Dalam kesia-siaanlah
    engkau memuliakan Aku’, Sang
    Kepala menangis untukmu dari
    Surga, ‘Sia-sialah engkau
    memuliakan Aku’. Itu seperti jika
    seseorang ingin mencium wajahmu
    dan sekaligus menginjak kakimu.
    Dengan sepatunya yang berpaku ia
    menghancurkan kakimu saat ia
    mencoba memegang kepalamu dan
    menciumnya; tidakkah engkau
    akan menghalangi usaha
    penghormatan itu dan berseru:
    ‘Hey, apa yang kau lakukan?
    Engkau menyakitiku!’” Jadi, jelas
    tidak mungkin bagi seseorang
    untuk tetap tinggal di bawah Sang
    Kepala, yaitu Kristus, dengan terus-
    menerus menghujat tubuh-Nya,
    yaitu Gereja. Keyakinan Gereja ini
    diteguhkan lagi dalam Konsili
    Lateran IV (tahun 1215):
    “Barangsiapa yang ingin
    diselamatkan, di atas segalanya ia
    perlu memegang iman Katolik. Dan
    jika seseorang tidak berpegang
    dalam iman ini secara teguh dan
    utuh, tak dapat diragukan lagi
    bahwa ia akan binasa.” Dengan
    kata lain, sebagaimana tidak ada
    keselamatan di luar Kristus, tidak
    ada pula keselamatan di luar
    Gereja. Extra ecclesiam nulla
    salus!
    Jika demikian bukankah ini
    bertentangan dengan pengertian
    di awal tulisan ini bahwa orang
    kafir pun yang jelas-jelas bukan
    anggota Gereja bisa diselamatkan
    asalkan ia hidup sesuai dengan
    hati nuraninya yang murni dengan
    menyembah satu Allah yang
    benar? Dalam hal ini, kita harus
    mengerti sebagaimana Gereja
    telah mengerti saat ia (Gereja )
    dengan berani dan tegas
    mengatakan bahwa di luar Gereja
    tidak ada keselamatan. Kita harus
    melihat doktrin ini dalam
    kacamata iman Gereja secara
    keseluruhan dan juga faktor
    sejarah yang melandasinya.
    Pertama-tama, sangatlah penting
    untuk mengerti bahwa doktrin di
    luar Gereja tidak ada keselamatan
    ini tidak ditujukan bagi orang-
    perorangan atau pribadi-pribadi
    non-Katolik, melainkan bagi
    komunitas-komunitas atau
    golongan-golongan non-Katolik.
    Jika ini benar bahwa hanya ada
    satu Tubuh Kristus, pastilah juga
    hanya ada satu Gereja. Setiap
    kelompok yang memisahkan diri
    dari Gereja atau yang sejak semula
    memang sudah tidak ada di dalam
    Gereja tidak mungkin dapat
    menjadi perantara kepada
    keselamatan. Hanya ada satu
    Gereja yang memiliki seluruh
    kepenuhan rahmat dan karenanya
    menjadi satu-satunya sarana
    untuk mencapai keselamatan di
    dunia ini.
    Akan tetapi, dalam kenyataannya
    tidak ada satu pun kelompok-
    kelompok atau komunitas-
    komunitas non-Katolik yang
    sepenuhnya non-Katolik atau anti-
    Katolik. Dengan kata lain, nilai-
    nilai luhur yang membawa
    keselamatan, yang secara penuh
    terkandung dalam Gereja, secara
    tidak penuh juga ada di dalam
    mereka.
    SAUDARA-SAUDARA YANG
    MEMISAHKAN DIRI
    Kita lihat golongan pertama, yakni
    mereka – baik Gereja Orthodoks di
    Timur maupun Gereja Protestan di
    Barat – yang secara sadar
    mengambil langkah untuk
    memisahkan diri dari Gereja.
    Pemisahan diri mereka dari Gereja
    tidak berarti penyangkalan akan
    seluruh iman dan rahmat dalam
    Gereja. Walaupun mereka
    menolak Gereja Katolik, saat pergi
    mereka membawa serta dan
    mempertahankan sejumlah besar
    keyakinan Gereja sebagai
    keyakinan mereka juga. Oleh
    karena itu, mereka, secara
    keseluruhan, tetap mewarisi
    kekayaan rahmat yang ada dalam
    Gereja, yang telah diturunkan oleh
    Kristus melalui para rasul sendiri,
    misalnya: Sakramen Pembaptisan,
    yang merupakan rahmat luar biasa
    yang disediakan Allah bagi
    penebusan dosa. Walaupun
    mereka menyangkal ke-Katolik- an
    mereka, dengan iman dan cara-
    cara penyembahan yang Katolik
    mereka tetap bisa memperoleh
    keselamatan. “Karena mereka ini,
    yang percaya kepada Kristus dan
    menerima pembaptisan dengan
    baik, berada dalam semacam
    persekutuan dengan Gereja
    Katolik, walaupun tidak
    sempurna.” (Dekrit Konsili Vatikan
    II tentang Ekumene, Unitatis
    Redintegratio, no. 3). Sehingga
    benarlah sabda Kristus: “Ada lagi
    pada-Ku domba-domba lain, yang
    bukan dari kandang ini.” (Yoh.
    10:16) Di mana pun, apabila Injil
    Kristus sungguh-sungguh
    diberitakan dan pembaptisan
    dilakukan di dalam nama Bapa,
    Putera, dan Roh Kudus, rahmat
    Allah bekerja. Ketika Yohanes
    berkata kepada Yesus bahwa ia
    baru saja mencegah seorang yang
    bukan termasuk bilangan para
    murid Yesus mengusir setan dalam
    nama Yesus, Yesus menegurnya,
    “Jangan kamu cegah, sebab
    barangsiapa tidak melawan kamu, ia
    ada di pihak kamu.” (Luk . 9:50).
    Masalah perpecahan memang
    sudah ada sejak awal Gereja. Hal
    ini secara khusus sangat dicela
    oleh Rasul Paulus (bdk. 1 Kor
    1:10- 17; 11:17-22) . Perpecahan
    harus dikutuk (anathema). Namun
    mereka, yang sekarang ini lahir
    dari persekutuan-persekutuan
    Kristen yang memisahkan diri dari
    Gereja dan yang diresapi oleh
    iman kepada Kristus, tidak dapat
    dipersalahkan karena dosa
    perpecahan (Unitatis
    Redintegratio, no. 3). Perpecahan-
    perpecahan yang terjadi terkadang
    timbul dari kesalahan tokoh-tokoh
    kedua belah pihak. Namun,
    berbicara mengenai rahmat dan
    keselamatan, Gereja mempunyai
    keyakinan teguh bahwa hanya
    melalui Tubuh Kristus sajalah,
    corong keselamatan satu-satunya ,
    seseorang dapat mencapai tujuan
    keabadian, yakni Kristus sendiri,
    seperti yang ditegaskan oleh salah
    seorang teolog terkemuka abad
    ini: “Walaupun mungkin bukan
    Gereja Katolik yang memberikan
    kepada mereka roti kehidupan dan
    rahmat, namun roti Katoliklah
    yang mereka santap. Dan saat
    mereka memakannya, mereka,
    tanpa menyadari ataupun
    menginginkan, diikutsertakan
    dalam substansi adikodrati Gereja.
    Walaupun secara lahiriah mereka
    terpisah dari Gereja, mereka
    tetap ada di dalam jiwa
    Gereja.” (Karl Adam, The Spirit of
    Catholicism, hal 179).
    SAUDARA-SAUDARA LAIN DI LUAR
    KRISTEN
    Kelompok yang kedua adalah
    mereka yang sejak semula
    memang tidak berada di dalam
    Gereja. Apakah para penganut
    agama non-Kristen bisa
    diselamatkan? Sebagaimana di
    dalam diri saudara-saudara Kristen
    kita yang lain, para penganut
    agama non-Kristen juga memiliki
    nilai-nilai luhur atau, menurut
    istilah Konsili Vatikan Il, berkas-
    berkas kebenaran yang
    mempunyai daya penyelamatan.
    Paus Paulus VI dalam ensikliknya,
    yang membahas tentang
    perwartaan Injil, berjudul
    Evangelii Nunciandi , yang
    diterbitkan tidak lama setelah
    penutupan Konsili Vatikan II,
    memberikan angin segar bagi
    evangelisasi dengan
    mengesampingkan semua
    prasangka dan tuduhan yang
    menyakitkan bagi agama-agama
    non-Kristen. Paus menegaskan,
    “Gereja menghormati dan
    menghargai agama-agama non-
    Kristen sebab mereka merupakan
    ungkapan hidup dari jiwa
    kelompok besar umat manusia.
    Agama-agama ini mengandung
    gema usaha mencari Allah selama
    ribuan tahun… ” Akan tetapi,
    untuk tidak membuat orang
    berpikiran bahwa Gereja
    menyamakan semua agama,
    beliau dengan cepat
    menambahkan bahwa usaha
    mereka itu merupakan, “.. .suatu
    usaha mencari yang tidak pernah
    lengkap, tapi kerap kali dilakukan
    dengan ketulusan yang besar dan
    kelurusan hati.” Dan yang paling
    penting adalah pernyataan beliau
    mengenai hubungan mereka
    dengan Allah, “Agama -agama tadi
    telah mengajar generasi-generasi
    umat manusia untuk
    berdoa.” (Evangelii Nunciandi, no.
    53).
    Santo Thomas Aquinas, berabad-
    abad sebelumnya juga telah
    memberikan pernyataan yang
    sangat jelas dan cerdas akan
    penyelenggaraan Allah, “Allah
    akan memelihara mereka yang
    tidak terjangkau oleh kabar akan
    Kristus, entah dengan
    mengirimkan malaikat-Nya kepada
    mereka ataupun melalui inspirasi
    batin.” (De Veritate, XIV, 11, ad 1).
    Ini luar biasa! Allah
    memperhatikan semua manusia
    dengan segala kebijaksanaan-Nya .
    Kita mengerti sekarang bagaimana
    manusia, meskipun tidak
    menerima wahyu Allah sejelas
    wahyu-Nya kepada bangsa Yahudi
    dan yang disempurnakan secara
    penuh dalam diri Putera-Nya,
    Yesus Kristus, ternyata secara
    samar-samar dapat menangkap
    wahyu Allah kepada mereka,
    entah itu melalui penampakan
    malaikat Allah ataupun inspirasi di
    dalam diri mereka yang terdalam!
    Allah sungguh-sungguh hadir juga
    dalam diri mereka, meskipun tidak
    sama dengan kehadiran-Nya dalam
    diri mereka yang telah dibaptis
    dalam air dan roh, tetapi Ia hadir
    secara hakekat dan ya, bahkan –
    dalam kualitas tertentu – secara
    rahmat. Gereja sejak semula
    mengajarkan bahwa rahmat Allah
    juga bekerja di luar Gereja yang
    kelihatan. Di sini kita bisa melihat
    perbedaan yang mendasar antara
    rumusan ‘extra ecclesiam nulla
    salus’ dengan rumusan ‘extra
    ecclesiam nulla conceditur
    gracia’ (di luar Gereja tidak ada
    rahmat).
    Ini menjelaskan banyak hal, tetapi
    di pihak lain juga membangkitkan
    satu pertanyaan besar, “Jika hanya
    di dalam Gereja ada keselamatan,
    apakah nilai-nilai luhur yang
    memberikan keselamatan
    diberikan kepada mereka melalui
    Gereja? Jika demikian, apakah
    nilai-nilai luhur itu semata-mata
    milik Gereja yang ‘dipinjamkan’
    kepada yang lain?”
    UNIVERSALITAS DAN EKSKLUSIFITAS
    GEREJA
    Kardinal Newman, seorang eks-
    pastor Protestan yang akhirnya
    menjadi Katolik dan yang
    kemudian bahkan terpilih menjadi
    salah seorang uskup Gereja
    Katolik, pernah mengatakan
    bahwa seandainya Gereja Katolik
    itu salah, kesalahannya itu pasti
    tidak kurang daripada kesalahan
    diabolik (kerasukan setan).
    Sebaliknya jika ia (Gereja Katolik)
    benar, pastilah ia didirikan dan
    diselenggarakan secara ilahi.
    Klaim Gereja akan dirinya sendiri
    memang sangat tinggi. Ia
    mengklaim dirinya tidak kurang
    daripada Tubuh Kristus sendiri,
    pemenuhan Kerajaan Allah di
    dunia, Gereja Kemanusiaan
    (Church of Humanity) yang
    memiliki kepenuhan nilai-nilai
    religius, institusi eksklusif tempat
    semua orang dapat memperoleh
    keselamatan. Ia tidak dapat
    mengakui bahwa orang dapat
    diselamatkan dengan menjadi
    anggota kelompok lain di luar
    Gereja primer, Gereja yang
    didirikan oleh Kristus sendiri.
    Sesungguhnya kita harus mengerti
    bahwa Gereja, dalam hal ini,
    melihat semuanya di dalam terang
    universalitas dan keabadian,
    bukan semata-mata paham
    ‘kemungkinan’ . Memang, seperti
    telah diterangkan di atas, Gereja
    selalu menghargai kepercayaan
    dari kelompok lain bahkan
    mengakui bahwa banyak nilai-nilai
    yang terkandung di dalam
    kelompok-kelompok itu sungguh-
    sungguh mengandung unsur
    pewahyuan ilahi, tetapi yang –
    sekali lagi – tidak pernah lengkap.
    Dari sini Gereja melihat adanya
    bahaya yang sangat besar dari
    sistem-sistem religius ini. Gereja
    mengingatkan bahwa tanpa
    pengenalan akan Kristus mereka
    akan cenderung lebih mudah
    ditipu dan disesatkan oleh iblis,
    misalnya melalui: takhyul,
    kepercayaan kepada barang-
    barang keramat (jimat, pembawa
    keberuntungan, dan lain-lain),
    sihir, perdukunan, dan sebagainya.
    Di atas, saya telah memakai
    gambaran bahtera untuk Gereja
    dan sekarang saya akan
    melanjutkan pemakaian gambaran
    itu. Kita semua harus mengarungi
    samudera yang amat luas untuk
    mencapai keselamatan dan satu-
    satunya sarana yang
    memungkinkan kita sampai
    kepada tujuan adalah bahtera
    Gereja. Di saat kapal-kapal baru
    yang lebih baru dan canggih silih
    berganti terlihat mendahului
    bahtera ini, ia tetap bergerak
    dengan lambat. Akan tetapi,
    dalam perjalanannya selanjutnya
    ia mendapati bahwa semua kapal
    yang pernah mendahuluinya
    ternyata tidak pernah berhasil
    mencapai tujuan mereka. Badai
    samudera telah menelan mereka
    semua. Di samping itu, ada
    padanya penumpang-penumpang ,
    tentu saja terbagi dalam kelas-
    kelas yang berbeda. Ada di antara
    mereka yang memilih bernaung di
    dalamnya dengan aman dan
    terlindung. Ada pula yang memilih
    menahan dingin dan menanggung
    risiko tercebur ke dalam laut
    dengan menumpang di atas
    geladaknya. Bahkan ada yang
    memilih hanya bergantung pada
    sisi-sisi badannya tanpa tempat
    untuk menginjakkan kaki-kaki
    mereka. Semuanya adalah
    penumpang bahtera ini, tetapi
    siapa yang akan lebih mudah
    bertahan di dalam badai?
    Memang paham universalitas
    Gereja ini sering disalahtafsirkan
    sebagai suatu bentuk fanatisme
    sempit (seperti yang saya lukiskan
    pada awal tulisan ini), namun saya
    mengajak Anda dan siapa pun yang
    membaca tulisan saya ini untuk
    benar-benar mempelajari dan
    mendalami ajaran-ajaran Gereja
    Katolik yang sejati (dokumen-
    dokumen Gereja dan ajaran- ajaran
    para Bapa Gereja) . Setelah itu
    Anda bisa memutuskan sendiri,
    apakah ini kebenaran atau hanya
    semata-mata bidaah terbesar yang
    pernah ada.

  5. johanes says:

    saudara….ingat cerita tantang Menara Babel di kitab Kejadian 11:1-9? Bagaimana Allah menyerakkan semua orang yang membangun kesombongannya. Dalam peristiwa menara Babel semua bahasa di buat kacau dan menghasilkan kekacauan. Entah mengapa saya selalu dibayangi peristiwa menara Babel ini saat membayangkan gerakan protestanisme yang di mulai dari Martin Luther. Kejadiannya sama, bahasa manusia di buat kacau dan kalau sekarang “bahasa iman”(baca pengajaran doktrin) di gereja gereja non Katolik ini menjadi “kacau” juga. Sesama gereja saling berselisih paham tentang sesuatu( dari hal kecil: mungkin keuangan, ego, kesombongan iman, dll sampai hal hal besar :mungkin doktrin iman,dst…Tapi yang jelas intinya adalah KETIDAKTAATAN. Adam jatuh kedalam dosa krn ketidaktaatan, Gereja pun sama.)Gereja a berselisih paham dengan jemaat atau pendetanya. Lantas memisahkan diri dan mendirikan gereja b,c,d,e,f,g,h,i,j,k,l,m,n,o,p,q,r,s,t,u,v,w,x,y,z,aa,ab,ac,ad,ae,dst …….sampai sekarang kurang lebih 30.000 denom gereja!! Mungkin kalau dirutkan pakai abjad , mungkin sudah xxxxa,xxxxb.xxxc,xxxd,dst………Sementara Gereja Katolik memenuhi doa Yesus: tetap bersatu sebagai kawanan dengan ciri khasnya: SATU,KUDUS,KATOLIK,APOSTOLIK.
    Ini sungguh menarik! Dan saya tetap sangat yakin bahwa GEREJA KATOLIKlah yang merupakan KRISTEN SEJATI, Gereja yang didirikan oleh TUHAN YESUS KRISTUS diatas Rasul Petrus. Tidak ada yang lain. Ini sesuai dengan janji Tuhan Yesus: bahwa kuasa maut tidak akan menguasainya. Halleluyah!

  6. fanni says:

    gereja katolik adalah gereja yg sudah teruji selama 2000 tahun,, saya tidak akan percaya injil . apabila injil itu tidak di gerakan oleh otoritas katolik..injil yg non katolik baca .itu milik katolik.. dan ingat gereja katolik lebih dulu ada dari terbukunya perjanjian baru.> bacalah sejarah gereja..

  7. rina says:

    Suadaraku gereja katolik adalah gereja yang bisa membuat anda rendah hati, penuh cinta kasih, dan sabar. Jika saudaraku banyak pun melakukan kegiatan-kegiatan gereja saudara, spt berdoa , berpuasa , lagu penyembahan pujian ntah apapun itu namanya. jika kita tidak bisa rendah hati, panjang sabar, lemah lembut dan penuh cinta kasih seperti HATI YESUS. BAGAIMANA ? Coba tanya hati nurani saudara. Semoga dosa kita semua diampuni TUHAN YESUS.
    YA TUHAN KASIHANILAH KAMI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s