Seorang Kritikus Tekstual Katolik yang Berpengaruh Meninggal

Carlo Martini, salah satu editor Perjanjian Baru Yunani yang dikeluarkan oleh United Bible Societies, meninggal minggu lalu dalam usia 85 tahun. Martini, seorang imam Jesuit dan Uskup Agung Emeritus Roma Katolik dari Milan, adalah seorang editor Perjanjian Baru UBS sejak tahun 1967 hingga 2002. Dia dijadikan seorang Kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1983. Editor-editor awal lainnya dari PB UBS adalah Kurt Aland, Bruce Metzger, Matthew Black, dan Allen Wikgren. Saya masih ingat betapa terkejutnya saya ketika saya belajar tentang kesesatan-kesesatan theologis yang parah dari orang-orang ini, yang mengedit Perjanjian Baru Yunani yang saya pakai di Sekolah Alkitab. Kami para murid tidak diberitahukan informasi ini, tetapi pada awal dari riset pribadi saya mengenai isu teks/versi Alkitab sebagai seorang misionari muda pada awal tahun 1980an, saya menggali informasi ini dengan cara mendapatkan buku-buku yang ditulis oleh Metzger dan orang-orang lain tersebut. Pada akhirnya, saya membangun suatu perpustakaan yang besar mengenai subjek ini dan mendokumentasikan kesesatan itu “langsung dari sumbernya.” Buku saya yang pertama yang menyingkapkan hal ini adalah Unholy Hands on God’s Holy Book: sebuah laporan tentang United Bible Societies pada tahun 1985. Informasi dalam buku itu digandakan berulang kali secara luas, kadang tanpa memberikan kredit yang seharusnya. Setelah 20 tahun penelitian lagi, saya menerbitkan The Modern Bible Version Hall of Shame pada tahun 2005, yang mengekspos kesukaan dan hubungan intim antara kritik tekstual dengan kesesatan akhir zaman. Buku ini mengandung dokumentasi berkaitan dengan 150 kritik tekstual dan penerjemah yang berpengaruh. Allah memerintahkan umatNya untuk menandai dan menghindari para penyesat theologis (Roma 16:17) dan berbalik dari kesesatan akhir zaman (2 Tim. 3:5). Tidak ada pembenaran alkitabiah untuk menggunakan buku-buku dan Perjanjian Baru Yunani yang dihasilkan oleh orang-orang seperti ini. “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim. 3:5). (Berita Mingguan GITS 8 September 2012, sumber: http://www.wayoflife.org)

 

 

 

About these ads
This entry was posted in BERITA and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Seorang Kritikus Tekstual Katolik yang Berpengaruh Meninggal

  1. back to chatolic says:

    Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala?

    PEMBAHASANDasar Kitab Suci
    Dasar Tradisi Suci
    Dasar Magisterium
    Diskusi lebih lanjut
    Pandangan Martin Luther tentang penggunaan patung/ lukisan

    Walaupun adakalanya umat Katolik berdoa di depan patung, umat Katolik tidak menyembah berhala. Jika umat Katolik menunjukkan sikap hormat di depan patung Tuhan Yesus, Bunda Maria ataupun para orang kudus lainnya, itu adalah karena umat Katolik menghormati pribadi yang digambarkan oleh patung tersebut. Penghormatan ini disebut dulia relatif, seperti yang sudah pernah diuraikan di link ini: http://katolisitas.org/6656/apa-itu-devosi-kepada-bunda-maria Contoh penghormatan ‘Dulia relatif‘ yaitu pada saat Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk membuat patung ular dari tembaga yang dipasang di sebuah tiang, agar barang siapa yang memandang patung itu akan tetap hidup walaupun telah dipagut ular (Bil 21:8-9). Ular tembaga yang ditinggikan di tiang ini menjadi gambaran akan Yesus Kristus yang juga akan ditinggikan di kayu salib (lihat Yoh 3:14). Tentu saat itu, orang Israel tidak menyembah berhala, sebab Allah-lah yang menyuruh mereka menghormati dengan ‘memandang ke atas’ ular tembaga yang dibuat oleh Musa itu. Penghormatan dulia- relatif lainnya yang dicatat dalam Kitab Suci, adalah ketika Tuhan menyuruh Musa untuk membuat tabut perjanjian, dengan membuat patung malaikat (kerub) untuk diletakkan di atas tutupnya (lih. Kel 37). Di dalam tabut diletakkan roti manna (Kel 25:30), tongkat Harun (Bil 17:10) dan kedua loh batu sepuluh perintah Allah (Kel 25:16). Tabut perjanjian ini kemudian menyertai bangsa Israel sampai ke tanah terjanji yang dipimpin oleh nabi Yosua. Kitab Yosua mencatat bahwa Yosua bersama- sama para tua- tua sujud ke tanah menghormati tabut Tuhan: “Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel….” (Yos 7:6). Tentu tabut itu bukan Tuhan, dan tentu yang dihormati bukan apa yang nampak, yaitu kotak dengan patung malaikat (kerub) di atasnya, tetapi adalah Allah yang dilambangkan-Nya. Yosua dan para tua- tua Yahudi pada saat itu tidak menyembah berhala, Allah tidak menghukum mereka karena sujud di depan tabut itu. Sebaliknya Allah menerima ungkapan tobat mereka, dan menyatakan kehendak-Nya atas apa yang harus mereka perbuat terhadap Akhan, yang melanggar perintah-Nya.

    Dengan demikian, larangan pembuatan patung dalam Perjanjian Lama (lih. Kel 20:4) berada dalam kesatuan dengan ayat sebelumnya (ayat 3) dan sesudahnya (ayat 5), yaitu bahwa Allah melarang umat-Nya membuat patung yang menyerupai apapun untuk disembah sebagai allah lain di hadapan-Nya. Namun jika tidak disembah, gambaran yang menyerupai sesuatu tidak dilarang Tuhan. Allah sendiri menyuruh membuat patung kerub/ malaikat untuk ditempatkan di tempat kudus-Nya (lih. Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35). Di Perjanjian Lama, Allah memang melarang umat-Nya menggambarkan Diri-Nya ke dalam bentuk patung, karena Ia sendiri belum menggambarkan Diri-Nya. Namun kemudian Allah sendiri memperbaharui ajaran ini, dengan menggambarkan Diri-Nya di dalam Kristus (lih. Kol 1:15); dengan demikian, manusia memperoleh gambaran akan Tuhan. Oleh karena itu penggambaran akan Kristus dalam bentuk patung, lukisan atau bahkan gambar dalam film kartun tidaklah melanggar perintah Allah, karena Allah telah terlebih dahulu menggambarkan Diri-Nya di dalam Kristus. Gambar/ patung itu tidak disembah, namun hanya dimaksudkan sebagai alat bantu untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan.

    Maka sikap hormat di hadapan patung/ gambar Tuhan Yesus, Bunda Maria atau para kudus lainnya bukan merupakan penyembahan berhala, sebab yang dihormati bukan patung itu sendiri melainkan pribadi yang dilambangkannya. Sejak abad awal gereja jemaat purba (katakomba) telah dihiasi oleh gambar- gambar rohani (Christian art), yang terlihat dari dinding- dinding gereja bawah tanah tersebut, yang antara lain ditemukan di abad ke-16 (31 Mei 1578, katakomba di Via Salaria). Adanya gambar Kristus Gembala yang baik, atau Kristus yang duduk di antara para orang kudus dan simbol- simbol serta ornamen lainnya (seperti daun palma, domba, salib, ikan, dst) juga nampak pada kubur batu (sarcophagi) umat Kristen. Kubur yang terkenal milik Julius Bassus (45-101), sudah dihiasi gambar- gambar peristiwa dalam Perjanjian Baru. Patung St. Hippolytus dan St. Petrus sudah dibuat di awal abad ke-3. Maka pandangan bahwa jemaat purba menolak semua gambar atau patung adalah pandangan yang keliru. Setelah jaman Kaisar Konstantin (306-307) memang terdapat perkembangan pesat dalam hal seni Kristiani, namun tidak ada perubahan prinsip di sini. Ornamen- ornamen di basilika merupakan perkembangan dari ornamen- ornamen di dinding katakomba; patung- patung di basilika dibuat lebih besar dan lebih indah daripada patung- patung di kubur batu/ sarcophagi.

    Dasar Kitab Suci
    •Bil 21:8-9; Yoh 3:14: Dulia relatif: Allah memerintahkan Musa untuk membuat patung ular tembaga di sebuah tiang, yang menjadi gambaran Yesus yang ditinggikan di kayu salib
    •Kel 20 3-5: Larangan membuat patung untuk disembah sebagai allah lain
    •Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35, 7:23-26: Allah memerintahkan pembuatan patung kerub yang diletakkan di atas tabut perjanjian.
    •Yos 7:6: Yosua sujud sampai ke tanah di hadapan tabut perjanjian.
    •Yeh 41:17-18: ukiran gambar- gambar kerub/ malaikat dan pohon- pohon korma di ruang Bait Suci.

    Dasar Tradisi Suci
    •Tertullian (160-220): “Adalah cukup bahwa Tuhan yang sama, sebagaimana dengan hukum melarang pembuatan patung yang menyerupai apapun, juga dengan perintah yang khusus, seperti dalam kasus ular tembaga [jaman Nabi Musa], memerintahkan untuk membuat patung [yang menyerupai ular].” (Tertullian, On Idolatry, chapt. 5)
    •St. Basilius Agung (330-379): “Penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar mengacu kepada tokoh yang digambarkannya” (St. Basilius, De Spiritu Sancto. 18,45)
    •St. Ambrosius (397) menuliskan dalam suratnya bahwa suatu malam Rasul Paulus menampakkan diri kepadanya, dan St. Ambrosius mengenali Rasul Paulus dari kemiripan dengan gambar/ lukisan tentangnya (Ep. ii, in P.L., XVII, 821)
    •St. Agustinus (wafat 430) menyebutkan beberapa kali tentang lukisan Tuhan Yesus dan para orang kudus di gereja- gereja (lih. St. Agustinus, “De cons. Evang.”, x, in P.L., XXXIV, 1049; “Contra Faust. Man.”, xxii, 73, in P.L., XLII, 446); ia mengatakan bahwa beberapa orang bahkan menghormati lukisan- lukisan tersebut (“De mor. eccl. cath.“, xxxiv, P.L., XXXII, 1342).
    •St. Jerome (Hieronimus- wafat 420) menulis tentang gambar- gambar lukisan para Rasul dan ornamen- ornamen yang ada dalam gedung- gedung gereja.
    •St. Gregorius Agung (wafat 604). Ia menulis kepada Serenus dari Marseilles, Uskup Ikonoklas, yang telah merusak gambar-gambar di keuskupannya: “Bukannya tanpa alasan bahwa jemaat purba memperbolehkan kisah- kisah para kudus untuk dilukiskan di tempat- tempat kudus. Dan kami sungguh memuji anda sebab anda tidak memperbolehkan lukisan- lukisan itu untuk disembah, tetapi kami menyalahkan anda karena anda telah merusaknya. Sebab adalah satu hal tentang menyembah sebuah gambar, namun adalah hal lain tentang mempelajari dari apa yang nampak di gambar itu, tentang apa yang harus kita sembah. Apa yang ada di buku adalah untuk mereka yang dapat membaca, seperti halnya gambar bagi mereka yang tidak dapat membaca yang memandangnya; melalui gambar, bahkan mereka yang tidak terpelajar dapat melihat tentang contoh yang harus mereka ikuti; melalui gambar, mereka yang buta huruf dapat membaca…. (Ep. ix, 105, in P.L., LXXVII, 1027) Catatan: Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang di dunia pada saat itu tidak dapat membaca.

    Dasar Magisterium
    •KGK 2129 Perintah Allah melarang tiap-tiap lukisan tentang Allah yang dibuat oleh tangan manusia. Buku Ulangan menjelaskan: “Karena kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari Tuhan berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api, hati- hatilah supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apa pun” (Ul 4:15-16). Allah yang transenden secara absolut telah menampakkan diri kepada Israel. “Dialah segala-galanya”, tetapi serentak pula “Ia adalah lebih besar daripada segala perbuatan-Nya” (Sir 43:27-28). Ia adalah “bapa keindahan” (Keb 13:3).
    •KGK 2130 Namun demikian, di dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menyuruh dan mengizinkan pembuatan patung, yang sebagai lambang harus menunjuk kepada keselamatan dengan perantaraan Sabda yang menjadi manusia: sebagai contoh, ular tembaga (Bdk. Bil 21:4-9; Keb 16:5-14; Yoh 3:14-15), tabut perjanjian, dan kerub (Bdk. Kel 25:10-22; 1 Raj 6:23-28; 7:23-26).
    •KGK 2131 Berkenaan dengan misteri penjelmaan Sabda menjadi manusia, maka konsili ekumene ketujuh di Nisea tahun 787 membela penghormatan kepada ikon [gambar], yang menampilkan Kristus atau juga Bunda Allah, para malaikat dan para kudus, melawan kelompok ikonoklas. Dengan penjelmaan menjadi manusia, Putera Allah membuka satu “tata gambar” yang baru.
    •KGK 2132 Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea 11: DS 601, Bdk.Konsili Trente: DS 1821-1825; SC 126; LG 67). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu “penghormatan yang khidmat”, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.
    “Penghormatan kepada Allah tidak diberikan kepada gambar sebagai benda, tetapi hanya sejauh mereka itu gambar-gambar, yang mengantar kepada Allah yang menjadi manusia. Gerakan yang mengarahkan ke gambar sebagai gambar, tidak tinggal di dalam ini, tetapi mengarah kepada Dia, yang dilukiskan di dalam gambar itu” (Tomas Aquinas., S.Th. 2-2,81,3, ad 3).

  2. back to chatolic says:

    Dewasa ini banyak orang Katolik yang diserang “Kekatolikkan’nya oleh kalangan-kalangan Kristen lain tertentu. Sayangnya, banyak dan mereka yang tidak sanggup membela imannya, sekaligus menerangkan apa yang sebenarnya menjadi kepercayaan dan ajaran Gereja Katolik. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, akibat ketidaktahuan, mereka malahan terpengaruh dan kemudian meninggalkan Gereja Katolik dan berbalik menjadi salah satu anggota baru gerakan anti-Katolik yang militan dan fanatik.

    Apakah ini sesuatu yang merugikan? Di satu pihak jelas merugikan karena Gereja kehilangan beberapa umatnya. Namun di pihak lain, ini juga merupakan pelajaran sekaligus shock yang membangunkan Gereja Katolik sendiri dan tidurnya yang panjang dan menyadarkannya akan bahaya-bahaya masa kini, suatu masa yang paling liar dalam sejarah umat manusia. Suatu masa dengan aliran-aliran penyesatan yang mencapai puncaknya seperti: Materialisme, rasionalisme, spiritualisme-spiritualisme timur tertentu, paham-paham New Age, dan, tentu saja, ‘kejutan’ dan saudaranya sendiri dari kalangan Kristen yang lain ini. Raksasa Gereja Katolik mulai bangun dan tidurnya yang panjang.

    Kenalilah Iman Anda

    Artikel ini ditujukan bagi anda yang termasuk anggota dan tubuh ‘Raksasa’ ini, anggota dan Gereja terbesar di seluruh dunia dengan anggota lebih dan satu milyar jiwa. Dengan iman dan tradisi yang kaya luar biasa serta struktur hierarkhi yang diakui sebagai yang paling luas dan mencakup seluruh dunia. Bagi anda yang mendapat serangan atau akan mendapat serangan dan mereka yang anti-Katolik, yang mungkin adalah anggota keluarga Anda sendiri, orang-orang yang paling Anda kasihi, sahabat Anda. Anda perlu untuk memperhatikan beberapa hal berikut ini untuk menghadapi mereka: Iman Katolik, iman Anda dan saya, bukanlah iman yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Ini harus benar-benar diketahui: iman kita merupakan iman yang hidup dan sudah teruji selama hampir 2000 tahun. Gereja Katolik didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri di atas batu karang Petrus sebagai Paus yang Pertama. Dan setelah Petrus selalu ada Paus pengganti sampai sekarang ini. Paus Benediktus XVI adalah Paus ke 265 (Anda bisa mengeceknya sendiri dengan menanyakannya kepada pastor paroki setempat atau keuskupan). Begitu kuatnya dasar Gereja, yaitu Yesus Kristus sendiri, dengan batu karang sebagai landasannya sehingga badai topan sekencang apa pun tidak membuat gereja Katolik runtuh. Ini sudah terbukti dalam kurun waktu kurang lebih 2000 tahun.

    Iman Katolik adalah iman yang benar-benar kuat dan kokoh baik dalam ajaran-ajaran maupun penerapannya. Ia (iman Katolik) sungguh-sungguh mendasarkan ajarannya di atas Kitab Suci dan tradisi. Tradisi itu pun tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Bukti-bukti dan argumen-argumen yang membuktikan bahwa Tradisi Gereja tidak pemah bertentangan dengan Kitab Suci dapat dengan mudah ditemukan secar lisan maupun tulisan, asalkan Anda mau mencarinya.

    Ya, yang perlu Anda lakukan sekarang adalah membaca, mendengarkan, belajar, dan setelah itu cobalah untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Doa, sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi dan Pengakuan Dosa, dan pembacaan Kitab Suci secara teratur akan sangat membantu menumbuhkan dan menguatkan iman Anda. Secara khusus, Anda juga bisa membaca literatur-literatur yang menjelaskan iman Katolik yang sejati, khususnya Katekismus Gereja Katolik, ensiklik-ensiklik kepausan, dan yang sangat baik dan penting: Dokumen Konsili Vatikan II. Jika buku-buku ini terjalu sulit ditemukan atau bila Anda tidak mempunyai banyak waktu untuk membaca, Anda bisa mencari literatur-literatur lain yang sangat membantu, misalnya: Mempertanggung-jawabkan iman Katolik jilid I-V. oleh Rm. Pidyarto, dsb. Selain sumber tulisan, Anda juga bisa mengikuti retret-retret atau seminar- seminar Katolik, pendalaman Kitab Suci, dsb. Lebih baik lagi bila Anda mencari seorang pembimbing rohani yang kompeten, yang selalu siap dan sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan iman Katolik. Jika Anda sungguh-sungguh mendalami dan mengamalkan ajaran iman Gereja, saya yakin Anda akan menemukan kebenaran dan kekayaan luar biasa yang terkandung di dalamnya.

    Satu catatan lain, bila pada suatu ketika Anda menghadapi suatu pertanyaan yang tidak bisa Anda jawab, janganlah malu untuk mengatakan, “Saya tidak tahu.” Dengan demikian selalu Anda terlepas dari bahaya salah jawab. Anda bisa menyambung dengan mengatakan kepada lawan bicara Anda bahwa Anda akan mencari penjelasan yang lanjut. Dengan mengatakan bahwa Anda tidak tahu, Anda juga telah mempraktekkan kerendahan hati sekaligus tetap setia kepada iman Anda.

    Kenalilah Lawan Bicara Anda

    Anda harus tahu bahwa tujuan utama lawan bicara Anda, orang-orang anti-Katolik, sebenarnya adalah untuk ‘mempertobatkan’ Anda. Kita, orang Katolik, dianggap mereka sebagai orang-orang sesat, penyembah berhala, dan sebagainya. Motivasi mereka sebenarnya baik, hanya pengertian mereka itu yang keliru sama sekali. Kekeliruan dan kesalahpahaman inilah yang perlu kita luruskan.

    Yang perlu kita sadari pertama-tama adalah kebenaran bahwa kita bukanlah pihak yang menyerang, melainkan pihak ‘yang membela diri’. Ini penting, sebab bila kita menyerang balik, apa bedanya kita dengan mereka. Lagi pula, tidak seorang pun yang berhak menghakimi saudaranya (Rm 14:1O).

    Dengan kesadaran ini kita harus berhati-hati jangan sampai kita terjerumus ke dalam jebakan iblis yang ingin memperdalam luka akibat perpecahan dalam Gereja. Dengan kesadaran ini pulalah, kita perlu mengetahui apa sebenamya yang mereka anggap keliru dalam Gereja kita.

    Carilah literatur-literatur mereka yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan mereka. Dengan demiklan kita bisa menyiapkan diri jauh sebeluninya, membela din dengan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi.

    Berdoalah, Mohon Roh Kudus

    Inilah yang paling penting dan memang sengaja saya tempatkan terakhir karena
    langkah ke 3 ini sudah mencakup kedua langkah di atas. Mengapa…?

    a. Roh Kudus adalah Roh Pemersatu

    Dengan memohonkan kehadiran Roh Kudus didalam din Anda, Anda menghindarkan sikap benci, penolakan, antipati, dsb., yang mungkin akan timbul saat Anda berhadapan dengan orang-orang anti-Katolik. Knistus tidak menghendaki perpecahan dalam umatNya.

    b. Roh Kudus adalah Roh Cintakasih

    Tujuan utama kita bukanlah membela diri, apalagi memenangkan perdebatan. Yang utama adalah bahwa kita harus bisa mengasihi mereka sebab Roh Kudus juga hadir dalam diri mereka. Ingatlah selalu motivasi sebenarnya dari lawan bicara Anda. Mereka ingin supaya Anda ‘diselamatkan’ juga. Ini akibat kesalahpahaman terhadap ajaran Gereja kita. Yesus juga mengasihi mereka.

    c. Roh Kudus adalah Roh yang lembut, tenang, bersahaja, namun sekaligus tegas dan berwibawa.

    Mohonlah kepadaNya agar Anda diberikan kelemah-lembutan, ketenangan, dan kesahajaan Yesus, sekaligus ketegasan serta kewibawaanNya. Terkadang kita memang harus tegas, terutama bila lawan bicara Anda temyata keras kepala dan mulai menunjukkan kemarahan. Kalau perlu Anda dapat segera menghentikan pembicaraan. Jangan sampai Anda juga terpancing untuk emosi dan kemudian marah, apalagi sampai menyerang balik, menghina, atau menghakimi. Jika demikian Anda mungkin bisa terjatuh ke dalam dosa. Yesuslah satu-satunya hakim yang benar.

    d. Roh Kudus adalah Roh Kebijaksanaan

    Mohonlah kepadaNya karunia kebijaksanaan untuk melihat kehendak Bapa yang sebenarnya. Mohonlah agar Ia menerangi akal-budi, pikiran, ingatan, dan terutama kehendak Anda sehingga Anda mampu menjadi saluran kebijaksanaanNya. Dalam hal ini, satu hal yang hams selalu diingat: dalam segala usaha Anda untuk menjelaskan dan meyakinkan lawan bicara Anda, Anda tidak akan berhasil jika Bapa tidak menariknya dan membisikkan kebenaran ke dalam hatinya melalui Roh Kudus. Daripada memaksakan keyakinan Anda akan lebib baiklah berdoa mohon Roh Kudus sendiri yang menjamahnya melalui apa yang Anda sampaikan

    Sebagai penutup, izinkan saya menceritakan suatu kisah akan dua orang sahabat, Markus dan Stefanus. Markus dan Stefanus adalah dua orang sahabat yang tak terpisahkan. Persahabatan mereka telah dimulai pada saat mereka masih berada di bangku SMP dan terus berlanjut sampai mereka dewasa dan berkeluarga. Mereka memiliki banyak sekali kesamaan. Secara fisik, mereka berdua dikagumi oleh banyak lawan jenis. Secara intelektual, mereka sama-sama memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Hobby mereka juga sama, olahraga, khususnya sepakbola dan basket. Hanya ada satu perbedaan yang cukup mencolok dan mereka berdua: Markus berasal dan keluarga pendeta Methodis yang sangat kuat suasana kerohaniannya, sedangkan Stefanus dibesarkan dalam keluarga Katolik yang tidak terlalu memperhatikan pendidikan kerohanian dalam keluarga. Perbedaan ini rupanya tidak menjadi persoalan yang bisa mengganggu persahabatan mereka.

    Demikianlah, mereka terus menjalin persahabatan; belajar bersama, bersenang-senang bersama, kuliah bersama, melewati banyak suka dan duka bersama, dan akhirnya keduanya lulus dan universitas, menemukan pekerjaan dan pasangan hidup masing-masing. Sampai suatu ketika, Markus mengambil keputusan untuk menjadi seorang pendeta, mengikuti jejak ayahnya. Lalu ia mendaftarkan dirmnya ke sekolah tinggi teologi untuk menjadi seorang pendeta.

    Di dalam hari-hari studinya, ia mendapatkan suatu kesadaran baru akan betapa pentingnya keselamatan bagi manusia. Saat itu ia mulai berpikir tentang sahabatnya, Stefanus. Pandangan barunya itu menimbulkan suatu kekuatiran akan keselamatan sahabatnya sekaligus membangkitkan hasrat yang menggebu-gebu untuk menginjili sahabatnya dan membuktikan bahwa apa yang dipercayai oleh sahabatnya itu keliru. Mulailah hari-hari yang melelahkan itu. Setiap hari Markus selalu menyempatkan dirinya pergi ke rumah Stefanus, mendesak Stefanus untuk segera bertobat dan menmggalkan kepercayaannya yang sesat itu. Pada permulaannya, Stefanus memang tidak berkeberatan dan bahkan senang bertemu dengan sahabatnya itu. Tetapi ketika hal ini berlanjut terus-menerus selama berminggu-minggu, kesabaran Stefanus mulai menipis.

    Sampai suatu malam, ketika Markus, seperti biasanya datang untuk memaksakan hal yang sama, Stefanus menyambutnya dengan raut wajah dingin. Percakapan pada malam itu tidak berlangsung seperti biasanya. Suasana terasa sangat panas dan tegang. Sekali lagi Markus membuka Kitab Sucinya menyerang kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang-orang Katolik.

    Stefanus yang selama ini diam seribu bahasa karena tidak mampu membalas serangan-serangan Markus terhadap imannya itu tiba-tiba meledak, “Peduli apa kamu pada apa yang aku percayai! Peduli apa kamu kalau aku selamat atau tidak! Aku sudah muak. Muak, tahu?”

    Markus tertegun sebentar melihat kemarahan sahabatnya itu, “Tentu saja aku peduli. Kamu sahabatku.”

    Stefanus semakin jengkel saja, “Sahabat? Huh, aku tidak punya sahabat yang tahunya cuma cuap-cuap tidak karuan saja,” tukasnya dengan sinis.

    Mendengar itu ikut panaslah hati Markus, “Baik, baik. Persetan!”

    Dengan kata-kata itu ia berdiri dan pulang membawa sakit hati dan kemarahan yang besar. Berakhirlah persahabatan agung itu. Iblis pun bersorak-sorai.

    Siapa sebenamya yang salah? Cobalah untuk merenungkannya. Hal mi sebenarnya tidak perlu terjadi jika ada PENGERTIAN YANG BENAR AKAN IMAN KATOLIK. Ketidaktahuan dan kesalahpahaman akan ajaran iman Katolik telah membutakan banyak orang. Sebagai akibatnya, banyak hubungan penuh cintakasih yang telah dirusakkan olehnya. Masalah iman ini memang sangat sensitif dan membutuhkan banyak kesabaran untuk menjelaskarinya dan Anda tidak mungkin menjelaskan dan mempertanggungjawabkan iman Anda jika Anda sendiri tidak mengerti dan mengalami kebenarannya dalam hidup.

    Akhirnya, bila pada suatu ketika Anda sudah benar-benar terdesak dan mulai ragu-ragu akibat serangan-serangan yang berusaha menjatuhkan iman Anda, berdoalah bersama para rasul, ‘Tambahlah iman kami.” Bertekunlah sampai akhir dan semoga Tuhan memberkati Anda dan menambah iman Anda. Amin.

  3. Beton says:

    BIBLE STUDY: 33 Bukti OTENTIK LAI ( Lembaga Alkitab Indonesia ) Merevisi atau merubah kata Tuan / Sir / Master menjadi TUHAN

    Matius 8:21 / Matius 8:25 / Matius 9:28 / Matius 14:28 / Matius 14:30 / Matius 15:22 / Matius 15:25 / Matius 15:27 / Matius 16:22 / Matius 17:14 / Matius 17:15 / Matius 20:30 / Matius 20:31 / Matius 20:33 /

    Markus 7:28 / Markus 14:19 / Markus 16:19 /

    Lukas 2:11 / Lukas 5:8 / Lukas 6:46 / Lukas 9:54 / Lukas 9:61 / Lukas 10:1 / Lukas 10:17 / Lukas 11:1 /

    Yohanes 4:1 / Yohanes 4:19 / Yohanes 11:32 / Yohanes 13:13 / Yohanes 13:14 / Yohanes 21:15 / Yohanes 21:16 / Yohanes 21:17 /

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s