Apakah Petrus Paus Pertama?

Berdiri sebagai Kepala Gereja Roma Katholik adalah paus dari Roma. Orang ini –sesuai doktrin Katholik — adalah kepala gereja bumi dan penerus dari rasul Petrus. Menurut kepercayaan ini, Kristus, menetapkan Petrus sebagai paus pertama, dan yang selanjutnya pergi ke Roma dan melayani dalam kapasitas ini selama 25 tahun. Dimulai dengan Petrus, gereja Katholik menegaskan suatu penggantian [suksesi] para paus yang telah berlanjut sampai hari ini. Ini adalah suatu bagian terpenting dari doktrin Gereja Roma Katholik. Tetapi apakah ayat-ayat Alkitab mengajar bahwa Kristus mentahbiskan SATU orang menjadi lebih diatas dari lainnya dalam gereja-Nya? Dapatkah kita temukan suatu sumber
alkitabiah bagi jawatan paus, uskup tertinggi? Apakah orang Kristen awal (mula-mula) mengakui bahwa Petrus begitu?

Sebaliknya, ayat-ayat Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa adanya suatu persamaan derajat di antara anggota gereja dan bahwa KRISTUS “adalah kepala dari gereja” (Efesus 5:23), bukan sang paus!

Yakobus dan Yohanes pernah datang kepada Yesus meminta jika seorang dari mereka dapat duduk di sebelah kanan dan lainnya di sebelah kiri dalam kerajaan-Nya (Dalam Kerajaan-kerajaan Timur, dua menteri utama kerajaan, menduduki otoritas setelah sang raja, yang memiliki posisi ini). Jika pernyataan Roma Katholik benar, nampaknya Yesus pasti sudah menerangkan bahwa Dia telah memberikan tempat di sebelah kanan itu bagi Petrus, dan tidak berniat membuat posisi lain di sebelah kiri!! Tetapi sebaliknya, ini adalah jawaban Yesus: “Kamu tahu, bahwa para pangeran dari bangsa-bangsa lain memerintah rakyatnya dengan keras, dan para-pembesarnya menjalankan kuasa besarnya atas mereka, tetapi tidaklah demikian di antara kamu. (Markus 10:35-43 KJV).

Dalam pernyataan ini, Yesus dengan terus-terang berkata bahwa tidak seorangpun dari mereka memerintah diatas lainnya. Malahan , Ia  mengajar suatu persamaan derajat — jelas sekali menolak prinsip yang terlibat dengan mempunyai paus memerintah atas gereja sebagai Uskup dari para uskup!!

Yesus selanjutnya mengajar konsep persamaan dengan memberi peringatan terhadap penggunaan titel sanjungan seperti “bapa” [kata "paus" (pope) artinya bapa], Rabi, atau Guru [Tuan]. “Karena hanya satu Guru [Tuan] mu yaitu Mesias”, “dan kamu semua adalah saudara” Matius (23:4-10). Ide bahwa seorang diantara mereka ditinggikan pada posisi paus adalah suatu yang sama sekali berbeda dengan ayat-ayat ini.

Tetapi orang-orang Roma Katholik diajarkan bahwa Petrus diberikan suatu posisi yang beritu superior (mulia) bahwa seluruh gereja didirikan di atasnya!! Ayat yang digunakan untuk mendukung tuntutan ini adalah Matius 16:18: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan pintu nerakapun tidak akan menguasainya”

Kita mengambil ayat ini dalam penempatannya, namun, kita dapat melihat bahwa gereja tidak dibangun pada Petrus, tetapi pada KRISTUS. Pada ayat sebelumnya, Yesus bertanya pada para murid-Nya, kata orang siapakah Dia. Ada yang berkata Ia adalah Yohanes Pembabtis, ada yang berkata Elia; yang lainnya berkata Yeremia atau seorang dari para nabi. Lalu Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Untuk pertanyaan ini Petrus menjawab: “Engkau adalah Kristus, Anak Allah [Elohim] yang hidup.” Kemudian Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus (petros — sebuah batu karang), dan pada batukarang ini (petra — sebuah kumpulan [ massa ] batukarang) — fondasi batukarang kebenaran yang Petrus baru saja mengekpresikannya) Aku akan mendirikan gereja-Ku”. Batukarang yang padanya gereja sejati akan dibangun bertalian dengan pernyataan Petrus — “Engkau adalah Kristus” — dengan demikian fondasi sejati yang padanya gereja dibangun adalah Kristus sendiri, bukan Petrus.

Petrus sendiri menyatakan bahwa Kristus adalah dasar batukarang [rock] (1 Petrus 2:4-8). Ia berbicara tentang Kristus sebagai “batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan … tidak ada keselamatan di dalam nama lain” (Kisah 4:11-12). Gereja dibangun pada Kristus. Dia adalah dasar yang sejati dan tidak ada dasar lain: ” Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11)

Saat Yesus berbicara tentang membangun gereja-Nya di atas batu karang, para murid-Nya tidak mengartikan ini bahwa Dia meninggikan Petrus menjadi paus mereka, karena di pasal berikutnya mereka bertanya sebuah pertanyaan pada Yesus tentang siapa yang TERBESAR (Matius 18:1). Apabila Yesus telah mengajar bahwa Petrus adalah satu-satunya orang yang padanya gereja dibangun — jika ayat ini membuktikan bahwa Petrus menjadi paus — maka para murid otomatis sudah mengetahui bahwa siapa yang terbesar di antara mereka!!

Sesungguhnya, tidak demikian sampai saat Calixtus, uskup Roma dari tahun 218 sampai 223, dimana Matius 16:18 digunakan dalam suatu usaha untuk membuktikan gereja dibangun pada Petrus dan Uskup Roma adalah penerusnya (suksesinya).

Bila kita melihat lebih dekat pada Petrus di Alkitab, akan menjadi jelas kelihatan bahwa Petrus sama sekali bukan seorang paus!!!
1.      Petrus telah menikah. Fakta bahwa Petrus seorang yang telah menikah tidak harmonis dengan posisi Katholik bahwa seorang paus adalah harus tidak menikah. Alkitab menceritakan pada kita bahwah bahwa ibu mertua Petrus disembuhkan dari demam (Matius 8:14). Tentu saja tidak akan ada “ibu mertua Petrus” jika Petrus tidak mempunyai seorang isteri!! Bahkan bertahun-tahun kemudian Paulus membuat suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa para rasul memiliki isteri — termasuk Kefas (1 Korintus 9:5). Kefas adalah nama Petrus dalam bahasa Aram (Yohanes 1:42).
2.      Petrus tidak membiarkan seseorang menyembah (bow down) padanya. Ketika Petrus masuk ke rumahnya, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus.Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: “Bangunlah, aku hanya manusia saja.” (Kisah Rasul 10:25-26). Ini sangat berbeda dari apa yang akan dikatakan oleh seorang paus, karena orang-orang berlutut (membungkuk) di depan paus.
3.      Petrus tidak meletakkan tradisi setingkat dengan firman Allah.
Sebaliknya, Petrus memiliki sedikit iman dalam “tradisi-tradisi nenek-moyangmu” (1 Petrus 1:18).Khotbahnya dipenuhi dengan Firman, bukan tradisi manusia. Ketika orang-orang bertanya apa yang harus mereka lakukan untuk menjadi benar dengan Allah, Petrus tidak berkata pada mereka untuk mendapatkan sekikit air dituang atau dipercik pada mereka. Malahan, ia berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis. 8:38).
4.      Petrus bukan seoran paus, sebab dia tidak memakai mahkota. Petrus sendiri menerangkan bahwa ketika Gembala Agung datang, barulah kita akan “menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.” (1 Petrus 5:4). Karena Kristus belum muncul kembali, mahkota yang dipakai oleh paus adalah bukan dilimpahkan kepadanya oleh Kristus. Pendek kata, Petrus tidak pernah bertindak sebagai paus, tidak pernah berpakaian seperti paus, tidak pernah berbicara seperti paus, tidak pernah menulis seperti paus, dan orang-orang tidak mendekatinya sebagai paus!!

Dalam segala kemungkinan, pada hari-hari permulaan gereja, Petrus memang
memegang posisi yang menonjol di antara para rasul. Adalah Petrus yang melakukan
khotbah pertama setelah pencurahan Roh Kudus di perayaan Pentakosta dan 3.000
jiwa bertambah kepada Tuhan. Selanjutnya adalah Petrus yang membawa Injil kepada
orang-orang non Yahudi. Kapan saja kita mendapati sebuah daftar dua belas rasul
dalam Alkitab, nama Petrus selalu disebut duluan (Mat. 10:2; Mrk 3:16; Lukas
6:14; Kis. 1:13). Tetapi tidak satu pun dari ini – tidak oleh  imajinasi yang
dibesar-besarkan – akan mengindikasikan bahwa Petrus adalah paus atau Uskup
dari
para uskup sedunia!!

Sementara Petrus keyataannya memegang peranan yang paling menonjol dari para
rasul pada awal mula sekali, setelah itu, PAULUS nampaknya telah memiliki
pelayanan yang sangat hebat. Contohnya, sebagai penulis Perjanjian Baru, Paulus
menulis 100 pasal dengan 2.325 ayat, sedangkan Petrus hanya menulis 8 pasal
dengan 166 ayat.

Paulus berbicara tentang Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai sokoguru dalam
gereja Kristen (Gal. 2:9). Namun demikian, ia dapat berkata, “Dalam SEGALA hal
aku tidak kalah dari rasul-rasul yang luar biasa itu” (2 Kor. 12:11). Tetapi
apabila Petrus telah menjadi Uskup tertinggi (pontiff), sang paus, maka tentu
saja Paulus akan agak sedikit di belakangnya. Dalam Gal. 2:11, kita baca Paulus
memarahi Petrus, “karena ia dipersalahkan”, susunan kata yang nampaknya aneh,
jika Petrus dianggap sebagai “paus yang tidak dapat berbuat salah” !!

Paulus, disebut “sang rasul dari bangsa non Yahudi” (Roma 11:13), sedangkan
pelayanan Petrus khususnya bagi orang Yahudi (Gal. 2:7-9). Fakta ini — di
dalamnya — akan nampak cukup untuk menunjukkan bahwa Petrus bukan uskup dari
ROMA, sebab Roma adalah kota non Yahudi (bdk Kis. 18:2). Semuanya ini
sesungguhnya amat penting (signifikan) bila kita menganggap bahwa keseluruhan
kerangka ajaran Roma Kotholik adalah didasarkan pada klaim bahwa Petrus adalah
uskup pertama Roma !!

Berbicara secara Alkitabiah, tidak ada bukti, bahwa Petrus pernah pergi dekat ke
Roma! Perjanjian Baru bercerita pada kita dia pergi ke Antiokia, Samaria, Yope,
Kaisarea, dan tempat-tempat lain, tetapi tidak ke Roma ! Ini adalah kelalaian
yang aneh, khususnya karena Roma dianggap kota yang paling penting di dunia !!

Ensiklopedia Katholik (Artikel “Peter”) menunjukkan bahwa suatu tradisi telah
muncul sedini abad ke-3 unuk kepercayaan bahwa Petrus adalah uskup Roma selama
25 tahun –  tahun-tahun ini (seperti yang dipercayai Jerome) bermula dari tahun
42 AD sampai tahun 67 AD. Tetapi pandangan ini adalah tidak tanpa
masalah-masalah yang berbeda-beda. Sekitar tahun 44, Petrus berada di dewan
gereja Yerusalem (Kisah Rasul 15). Kira-kira tahun 53, Paulus menyusul dia di
Antiokia (Gal. 2:11). Kira-kira pada tahun 58, Paulus menulis suratnya kepada
orang Kristen di Roma yang di suratnya dia menyampaikan salam kepada 27 pribadi,
tetapi tidak pernah menyebut Petrus. Bayangkan seorang misionari menulis kepada
sebuah gereja, memberi salam kepada dua puluh tujuh anggota gereja dengan nama
mereka tanpa menyebut sang gembala !!

Foto terlampir ini menunjukkan satu patung, yang dianggap Petrus, yang berlokasi
di Santo Petrus di Roma. Saya telah menyaksikan deretan panjang dari orang-orang
menunggu untuk berjalan di hadapannya dan mencium kaki patung itu.

Diterjemahkan oleh: Ev. David Lusikooy, Juni 2001 dari: Babylon Mystery Religion
(Bab 10)

Karya: Ralph Woodrow  P.O. Box 124 Riverside, California 92502

About these ads
This entry was posted in PAUS. Bookmark the permalink.

29 Responses to Apakah Petrus Paus Pertama?

  1. Udah gak usah cerewet BACA ini:

    Paus adalah pemimpin tertinggi Gereja sedunia, Wakil Kristus didunia ini. Paus adalah pengganti St. Petrus. Iman kristiani mengatakan Gereja harus bertahan sampai akhir jaman dan untuk bertahan sampai akhir jaman Gereja butuh seorang pemimpin oleh karena itulah Yesus mengangkat Petrus sebagai kepala Para Rasul.

    Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. [Matius 16:18]

    Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” [Matius 16:19]

    Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”* Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” [Yohanes 21:16]

    Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”* Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. [Yohanes 21:17]

    ——————————-

    Keselamatan hanya ada melalui Yesus, bahkan Yesuslah keselamatan itu sendiri, Bagi Katolik, keseluruhan Yesus itulah Keselamatan, termasuk ajaran-Nya, tindakan-Nya, perintah-Nya, Kematian-Nya, serta kebangkitan-Nya. Maka ucapanNya pun juga menentukan keselamatan.

    Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. [Matius 16:18]

    Yesus meyerahkan kuasa kepada Petrus (saja), maka tindakan Petrus, sejauh mengikat dan melepaskan ke / dari surga, praktis merupakan representasi dari tindakan Yesus.

    Hubungan [Matius 16:18]

    dengan

    [1 Petrus 2:4] “Sebab itu, datanglah kepada Tuhan. Ia bagaikan batu yang hidup, batu yang dibuang oleh manusia karena dianggap tidak berguna; tetapi yang dipilih oleh Allah sebagai batu yang berharga

    dan

    [1 Korintus 3:11]
    Sebab Allah sendiri sudah menempatkan Yesus Kristus sebagai satu-satunya pondasi untuk gedung itu; tidak ada pondasi yang lain

    Di sini seolah menjelaskan bahwa “batu karang” yang dimaksud pada [Matius 16:18] bukanlah Petrus melainkan Yesus, alasannya:

    [1 Petrus 2:4] yang menjelaskan dengan penggenapan,

    [Yesaya 28:16] Oleh sebab itu, TUHAN Yang Mahatinggi berkata begini, ”Aku akan meletakkan dasar yang kuat dan kokoh di Sion; sebuah batu sendi yang berharga dengan tulisan: ‘Siapa yang percaya teguh, tidak akan menyerah kalah,

    [1 Petrus 2:4] & [1 Korintus 3:11], benar bahwa Yesus adalah Batu penjuru, batu dasar, dan itu juga yang diimani Gereja Katolik.

    Namun kenyataan ini tidak secara otomatis menyimpulkan bahwa [Matius 16:18] menyatakan Yesuslah yang dimaksud sebagai “Batu Karang.”

    Dengan mengimani bahwa batu karang pada [Matius 16:18] adalah Petruspun juga tidak akan bertentangan dengan [1 Petrus 2:4] dan [1 Korintus 3:11], tentunya dengan cara rekonsiliasi pemahaman ketiganya:

    BATU PENJUURU (YESUS) telah meletakkan Batu Karang (PETRUS) untuk mendirikan GerejaNya;

    Maka sejauh seseorang percaya kepada Batu Penjuru (Yesus), maka orang itu seharusnya percaya kepada Batu Karang (Petrus). Sejauh seseorang percaya pada ajaran Yesus, maka orang itu seharusnya percaya pada ajaran Petrus.

    Maka bahwa Yesus adalah Batu penjuru [1 Ptr 2:4] & [1 Kor 3:11] namun Petrus adalah Batu Karang tempat Sang Batu Penjuru ini mendirikan Gereja [Matius 16:18]

    Sebagai orang Kristiani kita percaya bahwa wewenang yang diberikan kepada Petrus tidak berakhir dengan berakhirnya hidup Petrus, melainkan diwariskan kepada para penerusnya hingga detik ini kepada Bapa suci Benediktus XVI.

    [Kisah Para Rasul 1:20] “Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain.

    Ini adalah salah satu contoh seorang rasul (uskup) yang diganti atau diteruskan oleh orang lain. Petrus (Pemimpin para Rasul) berdiri ditengah tengah orang banyak dan mengatakan bahwa posisi Yudas (keuskupan) harus diisi.

    Setelah berdoa kepada Tuhan supaya ditunjukkan kepada mereka siapa yang harus mengisi posisi Yudas, mereka membuang undi. Tuhan menjawab doa mereka dengan menjatuhkan pilihan pada Mathias.

    Sampai sekarang Tuhan masih tetap membimbing Gereja ketika memilih Paus atau ketika mengajar umatNya.

    Jika posisi Yudas sendiri disuksesikan, maka kita boleh yakin bahwa posisi Para Rasul lainnya, termasuk dan terutama Rasul Petrus, juga akan tersuksesikan.

    Andaikata Para rasul (termasuk Petrus) tidak disuksesikan, lalu untuk apa posisi Yudas disuksesikan? [Kisah Para Rasul 1:20]

    Posisi Yudas disuksesikan, karena Yudas adalah seorang fasik. Jadi jabatannya harus digantikan orang lain. Seorang pendeta yang fasik, harus digantikan. Seorang majelis gereja yang fasik, posisinya harus digantikan.

    Kalau ini adalah dasar yang diimani oleh Katolik, konsekuensinya Katolik harus beriman pula bahwa posisi itu digantikan karena yang digantikan adalah orang fasik.

    Dasarnya?? [Mazmur 109:2-8]

    Hanya ada satu orang yang disebut sebagai “Batu Karang” dalam [Matius 16:18] yaitu Petrus saja, maka penggantinyapun layaknya hanya satu. Sementara gelar “Rasul” diberikan kepada 12 murid dan TERNYATA TERUS BERTAMBAH (diantaranya Paulus dan Barnabas yang ternyata juga mendapat gelar RASUL tanpa perlu rasul lain meninggal terlebih dahulu).

    Maka dari itulah Gelar Kerasulan bisa terus disuksesikan ke banyak orang. Namun Gelar “BATU KARANG” yang hanya diberikan kepada satu orang Rasul memang perlu digantikan oleh satu orang saja karena hanya ada satu “Petrus”

    Yesus hanya memberikan nama “Kefas” atau “Petrus” kepada Simon saja, disamping itu Yesus juga hanya memberikan Kunci Kerajaan Surga kepada Petrus dengan sebelumnya menegaskan hanya kepada Petrus bahwa dia adalah sang Batu karang [MatIUS 16:18].

    Memahami [Mazmur 109:2-8] & [Kisah Para Rasul 1:20],

    Kisah Para Rasul menegaskan bahwa jabatan Yudas harus terisi dan ternyata Mazmur mengatakan bahwa jabatan itu diganti berkaitan dengan suatu KEFASIKAN dan KEKOSONGAN jabatan.

    Yang menjadi pertanyaan:

    Apakah penggantian ini dikarenakan kefasikan atau dikarenakan kekosongan jabatan?

    Ada suatu fakta menarik bahwa Kitab Mazmur memang bercerita bahwa jabatan diganti setelah dia “keluar sebagai orang bersalah.” Tetapi Kitab Mazmur sama sekali tidak bercerita bahwa jabatan diganti karena dia bersalah.

    Kitab Mazmur hanya menjelaskan bahwa karena kefasikannya, dia dikeluarkan dari jabatan [Mazmur 109: 6-7) dan hal ini berkonsekuensi logis jabatannya menjadi kosong. Praktis Kitab Mazmur berkata bahwa Jabatannya diambil orang lain [Mazmur 109:8].

    Sederhananya untuk memahami Kitab Mazmur adalah begini:

    1. Penjabat memberontak, karena itu dia dikeluarkan dari jabatannya.
    2. Hal ini menyebabkan jabatannya menjadi kosong.
    3. Kosongnya jabatan ini menyebabkan harus ada penggantinya.

    Analogy kenegaraan:

    1. Seorang Jendral melakukan Kudeta, karenanya dia dikeluarkan dari jabatannya sebagai Jendral
    2. Hal ini menyebabkan posisi Jendral tersebut kosong
    3. kosongnya posisi ini menyebabkan harus ada orang baru yang menjadi Jendral pengganti posisinya.

    Artinya butuhnya pengganti sebenarnya bukan disebabkan karena pemberontakan si penjabat melainkan karena kekosongan jabatan.

    Jadi, dengan demikian Yesus meyerahkan kuasa kepada Petrus (saja), maka tindakan Petrus, sejauh mengikat dan melepaskan ke / dari surga, praktis merupakan representasi dari tindakan Yesus.

  2. TUNTUL says:

    LIKE I CARE~~~~ SUKA HATI LA KAMI…!!!!

  3. TUNTUL says:

    KALAU KAMI GELAR DIA BAPA SUCI KAMI YANG PERTAMA APA KAU PEDULI!!!!! KM PERCAYA…. JANGAN KISAH LA~~~~~ Y KO SUKA JAGA TEPI KAIN ORG NI APASAL~~~!!!!!!

  4. Pendeta Joel Osteen says:

    wah…rupanya Pak Benny Hinn pengetahuan Katoliknya yahud ya :) dijawab tuntas tas tas oleh Benny Hinn :p LOOL !!!

    • dedewijaya says:

      Wah Pak Benny Hinn yang bikin kepala pusing (Hin bhs hokien PUSING), bisa ketemu dengan Joel Osteen yg bermasalah….

      • Anonymous says:

        pak dede wijaya…. bertobatlah kau…kaulah SETAN YG SEBENARNYA.. membuat web embel katolik utk menghina katolik…. urus jemaatmu… roh setan adalah roh pemecah belah ke kristenan… itu KAMU!

    • Ya saudaraku Pendeta Joel Osteen

      Mari kita bersama-sama membaptis umat Protestan yang degil dan BIDAT ini ke dalam kesatuan gereja yang Kudus Katolik dan Apostolik.

      Sungguh sudah sangat SESAT sekali doktrin-doktrin RATUSAN RIBU SEKTE-SEKTE gereja PROTESTAN ini. Mereka mencuil-cuil dan menafsirkan ayat Alkitab seenak perutnya saja untuk kekayaan pribadi.

      CUIHHHHH

  5. S.Y.H.E says:

    Kita mengambil ayat ini dalam penempatannya, namun, kita dapat melihat bahwa gereja tidak dibangun pada Petrus, tetapi pada KRISTUS. Pada ayat sebelumnya, Yesus bertanya pada para murid-Nya, kata orang siapakah Dia. Ada yang berkata Ia adalah Yohanes Pembabtis, ada yang berkata Elia; yang lainnya berkata Yeremia atau seorang dari para nabi. Lalu Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Untuk pertanyaan ini Petrus menjawab: “Engkau adalah Kristus, Anak Allah [Elohim] yang hidup.” Kemudian Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus (petros — sebuah batu karang), dan pada batukarang ini (petra — sebuah kumpulan [ massa ] batukarang) — fondasi batukarang kebenaran yang Petrus baru saja mengekpresikannya) Aku akan mendirikan gereja-Ku”. Batukarang yang padanya gereja sejati akan dibangun bertalian dengan pernyataan Petrus — “Engkau adalah Kristus” — dengan demikian fondasi sejati yang padanya gereja dibangun adalah Kristus sendiri, bukan Petrus.

    Kefas adalah nama Petrus dalam bahasa Aram (Yohanes 1:42).

    hmm…….
    kayanya tipikal protestan yg lain yg melupakan sesuatu nih atau sengaja melupakannya??
    saya kutip yg diatas yg dr Injil Matius dr tulisan diatas, patut ditanyakan kepada yg nulis ini bahwa Injil Matius ditulis dalam bahasa apa?
    lalu dibawah nya adalah tentang Kefas yg artinya batu karang dalam bahasa Aram dr Injil Yohanes, nah kenapa dimunculkan dr Injil Yohanes tersebut dan apa kaitannya dengan yg diatasnya?
    seperti yang saya tanyakan Injil Matius ditulis dalam bahasa apa? sedangkan Yesus berbicara dalam bahasa sehari-hari bahasa apa?

  6. wah sepertinya pelaku firman disini adalah para badut yang mengutamakan pembenaran diri…. sayang sekali ya sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan ditanggapi dengan sikap yang tidak meneladani Kristus sendiri…. Bonny Hins jika kamu memang pengikut Kristus, cobalah gunakan bahasa yang pantas… tapi kalau sikap yang kamu tunjukan memang adalah doktrin Katholik wah sungguh sangat disayangkan…. karena jelas benar berbeda dengan apa yang Kristus teladankan

  7. CGF says:

    ok, saya adalah orang yang paling awam dan berasal dari Gereja katolik….saya setuju dengan bapak Steinley Harry..
    maaf Pak Bonny Hins bahasa anda kurang tepat.

  8. Imelda Lambertini says:

    Dalam Syahadat Nikea-
    Konstantinopel, kita mengaku
    iman kita: “Aku percaya akan
    Gereja yang satu, kudus, katolik,
    dan apostolik”. Inilah keempat
    sifat Gereja. Keempat sifat ini,
    yang tidak boleh dipisahkan satu
    dari yang lain, melukiskan ciri-ciri
    hakikat Gereja dan perutusannya.
    Gereja tidak memilikinya dari
    dirinya sendiri. Melalui Roh Kudus,
    Kristus menjadikan Gereja- Nya itu
    satu, kudus, katolik dan apostolik.
    Ia memanggilnya supaya
    melaksanakan setiap sifat itu.
    GEREJA YANG SATU. Katekismus
    Gereja Katolik menjelaskan bahwa
    Gereja itu satu, karena tiga
    alasan. Pertama, Gereja itu satu
    menurut asalnya, yang adalah
    Tritunggal Mahakudus, kesatuan
    Allah tunggal dalam tiga Pribadi -
    Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kedua,
    Gereja itu satu menurut pendiri-
    Nya, Yesus Kristus, yang telah
    mendamaikan semua orang
    dengan Allah melalui darah-Nya di
    salib. Ketiga, Gereja itu satu
    menurut jiwanya, yakni Roh Kudus,
    yang tinggal di hati umat beriman,
    yang menciptakan persekutuan
    umat beriman, dan yang
    memenuhi serta membimbing
    seluruh Gereja (#813 ).
    “Kesatuan” Gereja juga kelihatan
    nyata. Sebagai orang-orang
    Katolik, kita dipersatukan dalam
    pengakuan iman yang satu dan
    sama, dalam perayaan ibadat
    bersama terutama sakramen-
    sakramen, dan struktur hierarkis
    berdasarkan suksesi apostolik
    yang dilestarikan dan diwariskan
    melalui Sakramen Tahbisan Suci.
    Sebagai misal, entah kita ikut
    ambil bagian dalam Misa di
    Surabaya, Alexandria, San
    Francisco, Moscow, Mexico City,
    atau di manapun, Misanya sama -
    bacaan-bacaan, tata perayaan,
    doa-doa, dan lain sebagainya
    terkecuali bahasa yang
    dipergunakan dapat berbeda -
    dirayakan oleh orang-orang
    percaya yang sama-sama beriman
    Katolik, dan dipersembahkan oleh
    Imam yang dipersatukan dengan
    Uskupnya, yang dipersatukan
    dengan Bapa Suci, Paus, penerus St
    Petrus.
    Namun demikian, Gereja yang satu
    ini memiliki kemajemukan yang
    luar biasa. Umat beriman menjadi
    saksi iman dalam panggilan hidup
    yang berbeda-beda dan dalam
    beraneka bakat serta talenta,
    tetapi saling bekerjasama untuk
    meneruskan misi Tuhan kita.
    Keanekaragaman budaya dan
    tradisi memperkaya Gereja kita
    dalam ungkapan iman yang satu.
    Pada intinya, cinta kasih haruslah
    merasuki Gereja, sebab melalui
    cinta kasihlah para anggotanya
    saling dipersatukan dalam
    kebersamaan dan saling
    bekerjasama dalam persatuan
    yang harmonis.
    GEREJA YANG KUDUS. Tuhan kita
    Sendiri adalah sumber dari segala
    kekudusan: “Sebab hanya satulah
    Pengantara dan jalan
    keselamatan, yakni Kristus. Ia
    hadir bagi kita dalam tubuh-Nya,
    yakni Gereja” (Konstitusi Dogmatis
    tentang Gereja, #14 ). Kristus
    menguduskan Gereja, dan pada
    gilirannya, melalui Dia dan
    bersama Dia, Gereja adalah agen
    pengudusan-Nya. Melalui
    pelayanan Gereja dan kuasa Roh
    Kudus, Tuhan kita mencurahkan
    berlimpah rahmat, teristimewa
    melalui sakramen- sakramen. Oleh
    karena itu, melalui ajarannya, doa
    dan sembah sujud, serta
    perbuatan-perbuatan baik, Gereja
    adalah tanda kekudusan yang
    kelihatan.
    Namun demikian, kita patut ingat
    bahwa masing-masing kita, sebagai
    anggota Gereja, telah dipanggil
    kepada kekudusan. Melalui
    Sakramen Baptis, kita telah
    dibebaskan dari dosa asal,
    dipenuhi dengan rahmat
    pengudusan, dibenamkan ke dalam
    misteri sengsara, wafat dan
    kebangkitan Tuhan, dan
    dipersatukan ke dalam Gereja,
    “umat kudus Allah”. Dengan
    rahmat Tuhan, kita berjuang
    mencapai kekudusan. Konsili
    Vatican Kedua mendesak,
    “Segenap umat Katolik wajib
    menuju kesempurnaan Kristen,
    dan menurut situasi masing-masing
    mengusahakan, supaya Gereja,
    seraya membawa kerendahan hati
    dan kematian Yesus dalam
    tubuhnya, dari hari ke hari makin
    dibersihkan dan diperbaharui,
    sampai Kristus menempatkannya
    di hadapan Dirinya penuh
    kemuliaan, tanpa cacat atau
    kerut” (Dekrit tentang
    Ekumenisme, #4) .
    Gereja kita telah ditandai dengan
    teladan-teladan kekudusan yang
    luar biasa dalam hidup para kudus
    sepanjang masa. Tak peduli betapa
    gelapnya masa bagi Gereja kita,
    selalu ada para kudus besar
    melalui siapa terang Kristus
    dipancarkan. Ya, kita manusia
    yang rapuh, dan terkadang kita
    jatuh dalam dosa; tetapi, kita
    bertobat dari dosa kita dan sekali
    lagi kita melanjutkan perjalanan di
    jalan kekudusan. Dalam arti
    tertentu, Gereja kita adalah
    Gereja kaum pendosa, bukan
    kaum yang merasa diri benar atau
    merasa yakin akan
    keselamatannya sendiri. Salah
    satu doa terindah dalam Misa
    dipanjatkan sebelum Tanda Damai,
    “Tuhan Yesus Kristus, jangan
    memperhitungkan dosa kami,
    tetapi perhatikanlah iman Gereja-
    Mu.” Meski individu-individu warga
    Gereja rapuh dan malang, jatuh
    dan berdosa, Gereja terus menjadi
    tanda dan sarana kekudusan.
    GEREJA YANG KATOLIK. St Ignatius
    dari Antiokhia (± tahun 100)
    mempergunakan kata ini yang
    berarti “universal” untuk
    menggambarkan Gereja (surat
    kepada jemaat di Smyrna). Gereja
    bersifat Katolik dalam arti bahwa
    Kristus secara universal hadir
    dalam Gereja dan bahwa Ia telah
    mengutus Gereja untuk
    mewartakan Injil ke seluruh dunia
    - “Karena itu pergilah, jadikanlah
    semua bangsa murid-Ku ” (Matius
    28:19).
    Di samping itu, patut kita ingat
    bahwa Gereja di sini di dunia – yang
    kita sebut Gereja Pejuang -
    dipersatukan dengan Gereja Jaya
    di surga dan Gereja Menderita di
    purgatorium. Inilah pengertian
    dari persekutuan para kudus -
    persatuan umat beriman di surga,
    di api penyucian, dan di bumi.
    Dan akhirnya, GEREJA YANG
    APOSTOLIK. Kristus mendirikan
    Gereja dan mempercayakan
    otoritas-Nya kepada para rasul-
    Nya, para uskup yang pertama. Ia
    mempercayakan otoritas khusus
    kepada St Petrus, Paus Pertama
    dan Uskup Roma, untuk bertindak
    sebagai Vicar-Nya (= wakil-Nya) di
    sini di dunia. Otoritas ini telah
    diwariskan melalui Sakramen
    Tahbisan Suci dalam apa yang kita
    sebut suksesi apostolik dari uskup
    ke uskup, dan kemudian diperluas
    ke imam dan diakon. Uskup kita
    sendiri, andai mau, dapat
    menelusuri kembali suksesi
    apostoliknya sebagai seorang
    uskup hingga ke salah satu dari
    para rasul. Ketika Bapa Uskup
    mentahbiskan tujuh imam bagi
    keuskupan kita pada tanggal 15
    Mei yang lalu, beliau
    melakukannya dengan otoritas
    suksesi apostolik. Ketujuh imam
    itu, pada gilirannya ikut ambil
    bagian dalam imamat Tuhan kita
    Yesus Kristus. Tak ada uskup, imam
    atau diakon dalam Gereja kita
    yang mentahbiskan dirinya sendiri
    atau memaklumkan dirinya
    sendiri, melainkan, ia dipanggil
    oleh Gereja dan ditahbiskan ke
    dalam pelayanan apostolik yang
    dianugerahkan Tuhan kita kepada
    Gereja-Nya untuk dilaksanakan
    dalam persatuan dengan Paus.
    Gereja adalah juga apostolik
    dalam arti warisan iman seperti
    yang kita dapati dalam Kitab Suci
    dan Tradisi Suci dilestarikan,
    diajarkan dan diwariskan oleh
    para rasul. Di bawah bimbingan
    Roh Kudus, Roh kebenaran,
    Magisterium (= otoritas mengajar
    Gereja yang dipercayakan kepada
    para rasul dan penerus mereka)
    berkewajiban untuk melestarikan,
    mengajarkan, membela dan
    mewariskan warisan iman. Di
    samping itu, Roh Kudus melindungi
    Gereja dari kesalahan dalam
    otoritas mengajarnya. Meski
    seturut berjalannya waktu,
    Magisterium harus menghadapi
    masalah-masalah terkini, seperti
    perang nuklir, eutanasia,
    pembuahan in vitro, prinsip-prinsip
    kebenaran yang sama
    diberlakukan di bawah bimbingan
    Roh Kudus.
    Keempat sifat Gereja ini – satu,
    kudus, katolik dan apostolik -
    sepenuhnya disadari dalam Gereja
    Kristus. Sementara Gereja Kristen
    lainnya menerima dan mengaku
    syahadat dan mempunyai unsur-
    unsur kebenaran dan pengudusan,
    tetapi hanya Gereja Katolik Roma
    yang mencerminkan kepenuhan
    dari sifat- sifat ini. Konsili Vatican
    Kedua mengajarkan, “Gereja itu
    [yang didirikan Kristus], yang
    didunia ini disusun dan diatur
    sebagai serikat, berada dalam
    Gereja Katolik, yang dipimpin oleh
    pengganti Petrus dan para Uskup
    dalam persekutuan
    dengannya” (Konstitusi Dogmatis
    tentang Gereja, #8 ), dan “Hanya
    melalui Gereja Kristus yang
    Katolik-lah, yakni upaya umum
    untuk keselamatan, dapat dicapai
    seluruh kepenuhan upaya-upaya
    penyelamatan” (Dekrit tentang
    Ekumenisme, #3) . Sebab itu,
    adalah kewajiban kita untuk
    menjadikan keempat sifat ini
    kelihatan nyata dalam kehidupan
    ktia sehari- hari.

  9. Imelda Lambertini says:

    Dalam tradisi Katolik, dasar
    jabatan paus sungguh kita
    temukan terutama dalam Matius
    16:13-20. Di sana dikisahkan Yesus
    bertanya, “Kata orang, siapakah
    Anak Manusia itu?” Para rasul
    menjawab, “Ada yang mengatakan:
    Yohanes Pembaptis, ada juga yang
    mengatakan: Elia dan ada pula yang
    mengatakan: Yeremia atau salah
    seorang dari para nabi.” Lalu Yesus
    bertanya kepada mereka: “Tetapi
    apa katamu, siapakah Aku ini?”
    St Petrus, yang waktu itu masih
    dikenal sebagai Simon, menjawab,
    “Engkau adalah Mesias, Anak Allah
    yang hidup!” Kristus tahu bahwa
    jawaban ini berasal dari Allah,
    “Bukan manusia yang menyatakan
    itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku
    yang di sorga.”
    Karena jawabnya ini, Kristus
    berkata kepada Petrus, pertama,
    “Engkau adalah Petrus dan di atas
    batu karang ini Aku akan
    mendirikan jemaat-Ku dan alam
    maut tidak akan menguasainya.”
    Perubahan nama itu sendiri, dari
    Simon menjadi Petrus,
    menyatakan bahwa rasul tersebut
    dipanggil untuk suatu peran
    kepemimpinan yang istimewa;
    ingat bagaimana nama Abram
    diubah menjadi Abraham, atau
    Yakub menjadi Israel, ataupun
    Saulus menjadi Paulus, ketika
    masing-masing dari mereka
    dipanggil untuk mengemban suatu
    peran kepemimpinan yang
    istimewa di antara umat Allah.
    Kata “batu karang” juga
    mengandung makna istimewa. Di
    satu pihak, “batu karang”
    merupakan ungkapan bangsa
    Semit (termasuk di dalamnya
    adalah bangsa Yahudi dan Arab)
    untuk menunjukkan dasar yang
    kokoh di mana suatu komunitas
    akan dibangun. Sebagai contoh,
    Abraham dianggap sebagai “batu
    karang” sebab ia adalah bapa
    bangsa Yahudi (dan kita juga
    menganggapnya sebagai bapa
    dalam iman) dan dengan siapa
    Allah mengadakan perjanjian-Nya.
    Di lain pihak, tak seorang pun
    kecuali Allah disebut secara
    istimewa sebagai “batu karang”,
    juga nama itu tak pernah layak
    dikenakan kepada siapa pun
    kecuali kepada Tuhan. Sebagai
    contoh, dalam Mazmur 62, kita
    berdoa, “Hanya dekat Allah saja aku
    tenang, dari pada- Nyalah
    keselamatanku. Hanya Dialah
    gunung batuku dan
    keselamatanku.” Memberi nama
    “batu karang” kepada Petrus
    menyatakan bahwa Kristus
    mempercayakan kepadanya suatu
    wewenang istimewa, suatu
    wewenang yang ambil bagian
    dalam DiriNya dan mewakili
    DiriNya Sendiri.
    Sebagian pihak yang anti-paus
    berusaha mempermainkan kata-
    kata mempergunakan teks Injil
    asli berbahasa Yunani, di mana
    kata jantan untuk batu karang
    adalah “petros ,” berarti
    “sebongkah batu karang kecil yang
    dapat dipindahkan,” menunjuk
    pada Petrus. Sementara kata
    betinanya adalah “petra, ” berarti
    “sebuah batu karang besar yang
    tak dapat dipindahkan,” menunjuk
    pada pondasi Gereja. Namun
    demikian, dalam bahasa Aram,
    bahasa yang dipergunakan Yesus
    dan yang diyakini sebagai bahasa
    asli Injil Matius, kata “kepha”,
    artinya “batu karang”,
    dipergunakan bagi keduanya tanpa
    pembedaan gender ataupun
    perbedaan arti. Masalah gender
    muncul ketika menterjemahkan
    teks dari bahasa Aram ke bahasa
    Yunani dan menggunakan bentuk
    yang tepat untuk mengubah kata
    jantan Petrus atau kata betina
    Gereja.
    “Alam maut” juga merupakan
    suatu ungkapan Semit yang
    menarik. Di sini, ungkapan ini
    menunjuk pada kekuatan-
    kekuatan yang melawan apa yang
    didirikan Kristus, yaitu Gereja.
    Yesus menempatkan St Petrus dan
    jabatannya begitu dekat dengan
    DiriNya Sendiri hingga ia menjadi
    suatu kekuatan yang kelihatan
    untuk melindungi Gereja dan
    menghalau kekuatan setan.
    Kedua, Yesus mengatakan,
    “Kepadamu akan Kuberikan kunci
    Kerajaan Sorga.” Dalam Perjanjian
    Lama, orang “nomor dua” dalam
    kerajaan selalu diserahi kunci.
    Dalam Yesaya 22:19- 22 kita dapati
    kisah tentang Elyakim, kepala
    istana Raja Hizkia (2 Raja-raja
    18:17 dst), kepada siapa
    diserahkan kunci rumah Daud.
    Sebagai tanda jabatannya, ia yang
    memegang kunci mewakili raja,
    bertindak dengan wewenangnya,
    dan harus berbuat sesuai
    kehendak raja.
    Di samping itu, dalam Perjanjian
    Baru, dalam Kitab Wahyu, Yesus
    memegang kunci Surga, Neraka
    dan Api Penyucian, “Yang Kudus,
    Yang Benar, yang memegang kunci
    Daud; apabila Ia membuka, tidak
    ada yang dapat menutup; apabila Ia
    menutup, tidak ada yang dapat
    membuka…” (Wahyu 3:7 ) dan “Aku
    adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
    dan Yang Hidup. Aku telah mati,
    namun lihatlah, Aku hidup, sampai
    selama-lamanya dan Aku memegang
    segala kunci maut dan kerajaan
    maut” (Wahyu 1:17 -18). St Petrus
    ambil bagian dalam wewenang
    yang menembus hingga ke dunia
    baka.
    Terakhir, Yesus mengatakan, “Apa
    yang kauikat di dunia ini akan
    terikat di sorga dan apa yang
    kaulepaskan di dunia ini akan
    terlepas di sorga.” Ini adalah
    istilah rabbinic. Seorang rabbi
    dapat mengikat, memaklumkan
    suatu perbuatan sebagai terlarang
    atau menjatuhkan hukuman
    ekskomunikasi kepada seorang
    karena suatu dosa berat; atau,
    seorang rabbi dapat melepaskan,
    memaklumkan suatu perbuatan
    sebagai diperkenankan atau
    memulihkan seorang pendosa yang
    dikenai ekskomunikasi ke dalam
    komunitas. Di sini, Yesus
    mempercayakan suatu wewenang
    istimewa kepada St Petrus untuk
    melestarikan, menafsirkan serta
    mengajarkan kebenaran-Nya.
    Wewenang ini dipertegas setelah
    kebangkitan, ketika Yesus
    menampakkan diri kepada para
    rasul di Danau Tiberias (atau
    Galilea) (bdk. Yoh 21:1 -19). Di
    hadapan para rasul yang lain,
    Yesus bertanya tiga kali kepada St
    Petrus, “Simon , anak Yohanes,
    apakah engkau mengasihi Aku?”
    yang dijawab St Petrus dengan,
    “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa
    aku mengasihi Engkau.” Dan
    setelah setiap jawaban St Petrus,
    Yesus berkata kepadanya,
    “Gembalakanlah domba-domba-
    Ku.” Di sini, Kristus menegaskan
    peran St Petrus sebagai pemimpin
    gembala Gereja. Di akhir perikop,
    Kristus menyatakan bagaimana St.
    Petrus akan wafat, dan lalu
    berkata kepada St Petrus, “Ikutlah
    Aku.”
    Sebab itu, St Petrus dan masing-
    masing penerusnya mewakili
    Kristus di dunia ini sebagai Vicar
    Kristus dan memimpin kawanan
    umat beriman Gereja menuju
    Kerajaan Surga. Pemahaman atas
    Matius 16 dan Yohanes 21 ini tak
    tersangkal hingga para pemimpin
    Protestan ingin mensahkan
    penolakan mereka terhadap
    wewenang paus dan jabatan paus.
    Bahkan Gereja- gereja Orthodox
    mengakui paus sebagai penerus St
    Petrus; tetapi, mereka tidak
    mengakui primat yurisdiksinya
    atas Gereja semesta, melainkan
    hanya menganugerahinya
    kedudukan sebagai “yang tertinggi
    di antara yang sederajat.”
    Lebih lanjut, peran St Petrus
    dalam Perjanjian Baru
    meneguhkan keyakinan Katolik
    mengenai kepausan dan apa yang
    dikatakan Yesus dalam Matius 16.
    Petrus menduduki posisi utama di
    antara para rasul. Petrus selalu
    disebutkan pertama kali (Mat
    10:1- 4; Mrk 3:16-19 ; Luk 6:14- 16; Kis
    1:13) dan terkadang sebagai satu-
    satunya yang disebutkan (Luk
    9:32) . Ia berbicara atas nama para
    rasul (Mat 18:21; Mrk 8:28; Luk
    12:41; Yoh 6:69) . Apabila Kristus
    memilih tiga orang dari para rasul-
    Nya untuk peristiwa-peristiwa
    khusus, seperti Trasfigurasi, Petrus
    selalu dalam urutan pertama.
    Kristus memilih perahu St Petrus
    sebagai tempat di mana Ia
    mengajar. Pada hari Pentakosta,
    St Petrus yang berkhotbah di
    hadapan orang banyak dan
    memaklumkan misi Gereja (Kis
    2:14- 40). Dialah yang pertama kali
    mengadakan mukjizat
    penyembuhan (Kis 3:6 -7). St Petrus
    juga yang menerima wahyu bahwa
    kaum kafir harus dibaptis (Kis
    10:9- 48) dan berada di pihak St
    Paulus menentang perlunya sunat
    (Kis 15). Di akhir hidupnya, St
    Petrus disalibkan, tetapi, dalam
    kerendahan hatinya, ia minta agar
    disalibkan terbalik, dengan kepala
    di bawah.
    Sebagai orang Katolik kita percaya
    bahwa wewenang yang diberikan
    kepada St Petrus tidak berakhir
    dengan berakhirnya hidup St
    Petrus, melainkan diwariskan
    kepada para penerusnya. Tulisan-
    tulisan kuno menegaskan
    keyakinan ini. St Ireneus (wafat
    thn 202) dalam “Adversus
    haereses” menggambarkan
    bagaimana Gereja di Roma
    dibangun oleh St Petrus dan St
    Paulus, menelusuri suksesi jabatan
    dari St Petrus kepada Linus, Kletus
    (disebut juga Anakletus) dan
    seterusnya hingga keduabelas
    penerus sampai ke jamannya, Paus
    Eleutherius. Tertulianus (wafat thn
    250) dalam “De praescriptione
    haereticorum” menegaskan
    gagasan yang sama, begitu pula
    Origen (wafat thn 254) dalam
    “Komentar- komentar mengenai
    Yohanes, St. Siprianus dari Kartago
    (wafat thn 258)” dalam “Persatuan
    Gereja Katolik”, dan masih banyak
    yang lainnya.
    Wewenang kepausan menjadi
    semakin besar setelah
    disahkannya kekristenan,
    teristimewa setelah jatuhnya
    Kekaisaran Romawi dan timbulnya
    kekacauan politik. Gereja kita
    boleh berbangga atas garis tak
    terpatahkan suksesi St Petrus yang
    adalah Vicar Kristus. Patutlah kita
    senantiasa ingat bahwa salah satu
    gelar resmi paus, pertama kali
    dikenakan oleh Paus Gregorius
    Agung (wafat tahun 604) adalah
    “hamba dari para hamba Tuhan.”
    Sementara kita merenungkan
    jawaban di atas, baiklah kita
    kenangkan Bapa Suci kita, Paus
    Benediktus XVI, dan berdoa bagi
    ujud-ujudnya.

  10. Anonymous says:

    ingatlah bahwa asal muasal protestan adalah katolik….ini terjadi akibat protes krn penjualan surat pengampunan dosa..bukan protes atas kepausan…so pendahulu gereja protestan (martin luther king) juga mengakui kepausan dan st. petrus adalah paus pertama sbg rasul sang juru selamat…..

  11. Coemi says:

    Maaf, Sejarah Gereja ada di tangan kami, Saya amat menganjurkan anda membaca apa yang ada di situs Katolisitas yang sdh diberikan di atas. Pilar ajaran kami tidak hanya berdasarkan Kitab Suci, namun juga pengajaran Gereja dan Tradisi Suci yang memang tidak tertulis di Alkitab. Sadar kan bahwa Alkitab sendiri tidak bisa memuat karya Yesus yang sebegitu banyak? (bukankah Alkitab sendiri mengatakannya). Jadi, sungguh aneh bila Anda menafsirkan sendiri ayat Alkitab secara serampangan tanpa adanya panduan. Kamilah yang punya Sejarah.

    • Hendrik Kini says:

      Ahh .. Coemi anda memang jujur .. tapi jujur saja tidak cukup, anda harus benar .. kalau pilar anda TIDAK HANYA KITAB SUCI .. itu artinya ada kontaminasi berarti sudah tidak suci lagi .. suci=kudus artinya diasingkan untuk penggunaan yang suci = murni,bebas dari kesalahan ..

  12. Anonymous says:

    ,

  13. Anonymous says:

    biar berbeda beda tapi kita satu Tuhan.

  14. fanni says:

    aneh orang bicara alkitab.. tanyalah gereja mana yang membukukan alkitab..kita harus percaya sama gereja yg membuat alkitab itu mengkanonkannya.. apabila motor kita merek honda. tanyalah sama bengkel honda.> jangann nanyasama merek baru yg belum teruji. dan sok pinter
    sok tau..sekolah alkitab baru 4thn udah banyak ngomong

    • Hendrik Kini says:

      Yang lebih aneh lagi bengkel honda pake onderdil punya yamaha .. mengaku membuat alkitab tapi yang diajarkan bukan dari alkitab ..

  15. Manusia biasa says:

    @fanni fanni asalkan kamu tahu dan menonton demon and angels
    dan jika kamu kristen , lihat sejarah kepausan.
    aku telah melihat bahwa pembuat alkitab itu terdiri dari beberapa orang ,
    dan semua jasadnya tidak diketahui
    1. Matius meninggal dunia, karena disiksa dan dibunuh dengan pedang di Etiopia.
    2. Markus meninggal dunia di Alexandria (Mesir), setelah badannya diseret hidup-hidup dengan kuda melalui jalan-jalan yang penuh batu sampai ia menemukan ajalnya.
    3. Lukas mati digantung di Yunani, setelah ia berkhotbah di sana kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan.
    4. Yohanes direbus atau lebih tepatnya digoreng di dalam bak minyak mendidih di Roma, tetapi karena Tuhan masih menyelamatkannya maka keajaiban terjadi sehingga walaupun ia telah digoreng hidup-hidup ia bisa hidup terus. Tetapi akhirnya ia dibuang dan diasingkan ke pulau Patmos un
    1 tahun lalu

    5. Petrus telah disalib dengan kepala di bawah. Kayu salib untuk Petrus dipasangnya berbeda, ialah secara huruf X, karena itulah permohonan yang ia ajukan sebelum ia disalib,dimana ia memohon untuk disalib dengan cara demikian. Ia merasa tidak layak untuk mati dan disalib seperti Yesus.

    6. Yakobus saudara tiri dari Yesus dan pemimpin gereja di Yerusalem, dilempar ke bawah dari puncak bubungan Bait Allah, di tempat yang sama dimana si setan dahulu membawa Yesus untuk digoda. Ia meninggal dunia setelah dilempar dari tempat tinggi tersebut.
    1 tahun lalu

    7. Yakobus anak Zebedeus adalah seorang nelayan dan ia adalah murid pertama yang dipanggil untuk ikut Yesus, ia dipenggal kepalanya di Yerusalem. Pada saat-saat ia disiksapun, ia tidak pernah menyangkal Yesus, bahkan ia berusaha untuk berkhotbah terus, bukan hanya kepada para tawanan lainnya saja, bahkan kepada orang yang menghukum dan menyiksa dia dengan kejamnya. Sehingga akhirnya orang Romawi yang menjadi penjaga dan penyiksa dia, bisa turut bertobat. Penjaga Romawi itu mendampingi Yakobus pada saat ia dihukum penggal, bukannya sekedar hanya untuk turut menyaksikannya saja, melainkan juga untuk turut dihukum dan dipenggal bersama dengan Yakobus. Pada saat ia mau menjalani hukuman mati, ia berlutut bersama di samping Yakobus, sambil berdoa, itu adalah doanya yang terakhir, sebelum ia mati dipenggal bersama Yakobus sebagai pengikutnya.
    1 tahun lalu

    8. Bartolomeus yang lebih dikenal sebagai natanael ia menjadi misionaris di Asia, antara lain ia memberikan kesaksian di Turki. Ia meninggal dunia di Armenia setelah ia mendapat hukuman pukulan cambuk yang sedemikian kejamnya sehingga semua kulitnya menjadi hancur terlepas kebeset.

    9. Andreas juga disalib seperti Petrus dengan cara X di Yunani. Sebelum ia meninggal, ia disiksa dengan hukum cambuk oleh tujuh tentara dan diikat di salib. Dengan cara demikian mereka bisa memperpanjang masa sakit dan masa siksaannya. Seorang pengikut Andreas yang turut menyaksikan hukuman Andreas menceritakan perkataan yang telah diucapkan oleh Andreas sebelum ia meninggal dunia: “Ternyata keinginan dan cita-cita saya bisa terkabul dimana saya bisa turut merasakan “happy hours” dengan disiksa dan disalib seperti Yesus.” Bahkan pada saat ia disiksa pun tiada henti-hentinya ia berkhotbah terus, ia berkotbah terus dua hari sebelum ajalnya tiba.Berkotbah sambil dihukum cambuk.”
    1 tahun lalu

    10. Rasul Thomas mati ditusuk oleh tombak di India.

    11. Yudas saudaranya dari Yesus dihukum mati dengan panah,karena ia tidak bersedia untuk mengingkari Yesus.

    12. Matias, pengganti dari Yudas Iscariot mati dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

  16. Gak tau apa" says:

    Tuhan Yesus berkata.- barang siapa percaya kepadaku ia akan hidup selama-lamanya.

    Dan.
    Namanya akan tercantum dalam kitab kehidupan.
    Aku yakin pada akir zaman nanti Tuhan akan meluruskan apa yang telah berpaling dari ajarannya.

    Add me FB.
    Regian Rapar.

  17. Hendrik Kini says:

    Matius 23:8 “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.”

    Matius 23:9 “Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.”

    Matius 23:10 “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu KRISTUS.”

    PAUS adalah pemimpin KERAJAAN DUNIA bukan KERAJAAN ALLAH

  18. Maria says:

    PAUS ADALAH WAKIL KRISTUS DI DUNIA…. YESUS SENDIRI MENGATAKAN KEPADA PETRUS “GEMBALAKANLAH DOMBA DOMBAKU” DAN PENGANUT KATOLIK LEBIH DARI 1 MILIARD ORANG, YG TERDIRI DARI PARA TEOLOG,INTELEK,AKADEMISI,APA MEREKA MENGANUT KATOLIK ITU BODOH MEREKA MEMILIH IMAN KATOLIK?… BELAJAR BANYAK DULU…SUPAYA KAMU TIDAK JADI FANATIK, KAMU FANATIK KARENA KAMU BELAJAR DI LINGKUNGAN MU SENDIRI…

  19. guverno says:

    ya saya sependapat dengan MARIA Petrus adalah mewakili misi Kristus di Dunia sebagaimana esus mengatakan ”GEMBALAKANLAH DOMBA DOMBAKU” sampaikanlah kotba2 firman tuhan kepada Umat di Duni, sarankan jadi kritikus di publik harus bayak baca de,…. jangan so,so di lingkubganmu saja kamu suda benar.

  20. santoso1509 says:

    I love yesus,…..I love katholik,……salam damai…….tidak usah saling menghujat krn hati menjadi kotor,…………..Roh kudus menyertai gereja katholik dan selalu…….

  21. harvi says:

    Kita adalah pengikut Yesus mengapa harus saling menyalah kan ,kita harusnya saling melengkapi Karna di katolik punya kelemahan dan kelebihan begitupun kristen ortodox yang lebih tua dari antiokia ‘,protestan dan karismatik yang kemudian .saya sebenarnya ingin jelaskan lebih lenggkap tapi ada satu kata rasul paulus yang akan menginspirasi kita ( adkah kau dibabtis dengan nama paulus ataou rasul lainya Tetepi kita di babtis Dlam Nama Bapa Putra dan Rohkudus.Amin)

  22. bolang says:

    batu karang sama dgn batu penjuru?
    baru tahu saya.tapi sy ingin tanya sedikit.
    kenapa Simon diganti nama jadi Petrus. padahal namaNya Simon. Kenapa panggilan Petrus tdk ditujukan pada Yesus sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s